Membongkar Relasi Kuasa di Balik Keindahan Lanskap “Menelan Cakrawala”

Navaswara.com – Museum MACAN kembali menghadirkan pameran utama yang begitu menarik bagi para pencinta seni dan budaya, yakni pameran grup bertajuk “Menelan Cakrawala (Swallow the Horizon)”. Gelaran ini resmi dibuka sejak 23 Mei 2026 dan akan berlangsung hingga 4 Oktober 2026 mendatang.

Melalui rangkaian karya yang ditampilkan, pengunjung diajak merenungi ulang konsep lanskap yang bukan hanya sebagai pemandangan alam, tapi juga ruang yang dibentuk oleh sejarah dan kekuasaan. Bahwa lanskap masa kini juga terpengaruh oleh eksploitasi sumber daya hingga krisis lingkungan yang terjadi.

Pameran ini mempertemukan karya-karya modern dan kontemporer dari berbagai generasi dan latar belakang. Sejumlah seniman yang terlibat di antaranya Raden Saleh, Franz Wilhelm Junghuhn, Wakidi, dan Zao Wou-Ki. Kehadiran karya dari para seniman hebat tersebut menciptakan dialog lintas zaman tentang bagaimana manusia memandang dan membentuk lanskap di sekitarnya.

Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah “Segler in schwerer See (Sailing Ship in Heavy Seas)” karya Raden Saleh. Lukisan yang dibuat pada tahun 1840 tersebut menampilkan kapal yang berjuang menghadapi ganasnya ombak laut. Karya ini dimaknai sebagai gambaran hubungan manusia dengan kekuatan alam yang tidak selalu dapat dikendalikan.

Di sisi lain, lukisan tersebut juga merefleksikan kondisi Hindia Belanda pada abad ke-19 ketika laut menjadi jalur penting perdagangan, kolonialisme, dan pergerakan kekuasaan. Melalui visual yang dramatis, Raden Saleh memperlihatkan bahwa lanskap bukan hanya objek untuk dinikmati, tapi juga arena tempat berbagai kepentingan politik dan ekonomi berlangsung.

Makna lain dapat ditemukan pada karya-karya yang dihadirkan Thao Nguyên Phan. Seniman asal Vietnam ini dikenal banyak mengeksplorasi isu lingkungan, perubahan bentang alam, serta dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem.

Karyanya dalam pameran “Menelan Cakrawala” mengajak pengunjung melihat lanskap sebagai ruang yang menyimpan memori kolektif sekaligus saksi perubahan ekologis yang terus terjadi. Baginya, lanskap tidak lagi dipahami sebagai objek, melainkan sebagai ruang hidup yang terhubung dengan sejarah, identitas, dan keberlanjutan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *