Navaswara.com — Langit pagi di sekitar Gunung Dukono, Halmahera Utara, kembali diselimuti abu vulkanik pekat. Dentuman dari perut gunung terdengar memecah suasana, sementara warga mulai mengenakan masker dan membersihkan sisa abu yang perlahan menutupi halaman rumah serta jalan permukiman. Aktivitas masyarakat tetap berjalan, namun kewaspadaan kini meningkat seiring kembali aktifnya salah satu gunung api paling aktif di Indonesia itu.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Dukono, Pulau Halmahera, Maluku Utara, untuk mewaspadai sebaran abu vulkanik akibat erupsi yang terjadi pada Jumat (8/5) pagi.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan Gunung Dukono yang berstatus Level II atau Waspada mengalami erupsi pada pukul 07.41 WIT. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik.
“Erupsi tersebut juga disertai suara dentuman serta menghasilkan semburan abu vulkanik yang perlu diwaspadai masyarakat di sekitar wilayah terdampak,” ujar Lana.
Menurutnya, aktivitas erupsi Gunung Dukono sebenarnya sempat menurun pada Agustus 2025. Namun sejak 30 Maret 2026, aktivitas magmatik eksplosif kembali meningkat signifikan dengan tercatat 199 kali erupsi dan tinggi kolom letusan mencapai 50 hingga 400 meter dari puncak.
Pada erupsi terbaru, kolom abu terpantau berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan mencapai sekitar 10.000 meter di atas puncak gunung. Sebaran abu condong ke arah utara dan berpotensi berdampak ke wilayah permukiman hingga Kota Tobelo melalui hujan abu vulkanik.
PVMBG mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat memicu gangguan kesehatan, terutama sistem pernapasan, sekaligus menghambat aktivitas warga, transportasi, dan kebersihan lingkungan.
“Masyarakat di sekitar Gunung Dukono diimbau selalu menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk digunakan saat diperlukan guna menghindari dampak abu vulkanik,” kata Lana.
Selain ancaman abu vulkanik, masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak beraktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat aktivitas erupsi.
PVMBG turut mengingatkan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar, terutama saat hujan deras. Lahar diperkirakan dapat mengalir melalui Sungai Mamuya di sektor utara, serta Sungai Mede dan Sungai Tauni di sektor timur laut yang berhulu langsung dari kawasan puncak Gunung Dukono.
Di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik, pemerintah daerah bersama otoritas kebencanaan diminta memperkuat mitigasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama terkait penggunaan masker, kesiapan jalur evakuasi, serta perlindungan kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
PVMBG memastikan pemantauan aktivitas Gunung Dukono terus dilakukan secara berkala. Informasi terkini dapat diakses masyarakat melalui aplikasi MAGMA Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi.
