Jakarta Bergerak dari Rumah, Pemprov DKI Ajak Warga Pilah Sampah Demi Masa Depan Kota

Navaswara.com — Langkah kaki warga mulai memenuhi kawasan pedestrian Jalan H.R. Rasuna Said sejak pagi. Di tengah suasana akhir pekan yang ramai, pesan tentang masa depan Jakarta digaungkan lewat satu gerakan sederhana namun penting yakni memilah sampah dari rumah. Edukasi lingkungan, aktivitas menabung sampah, hingga penyuluhan langsung kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif menjaga ibu kota tetap bersih dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat bergerak bersama melalui deklarasi “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah” dalam rangkaian Pencanangan HUT ke-499 Kota Jakarta Menuju 5 Abad di Koridor Jalan H.R. Rasuna Said, Pedestrian Pasar Festival, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah Jakarta. Menurutnya, sebagian besar timbulan sampah berasal dari rumah tangga dan didominasi sampah organik yang masih dapat diolah.

“Melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa memilah sampah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk menyelamatkan Jakarta dari darurat sampah,” ujar Dudi.

Ia menjelaskan, apabila pemilahan dilakukan sejak dari rumah, sebagian besar sampah dapat diselesaikan di tingkat hulu. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sampah anorganik dapat didaur ulang maupun ditabung, sementara hanya sampah residu yang dikirim ke fasilitas pengolahan akhir.

Langkah tersebut dinilai semakin mendesak karena mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya akan menerima sampah residu. Bahkan pada 2027 mendatang, TPST Bantargebang ditargetkan tidak lagi menerima sampah.

Kondisi itu membuat perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Pemprov DKI pun mulai mendorong praktik pemilahan sampah di sejumlah wilayah, salah satunya Kelurahan Rorotan yang kini menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Menurut Dudi, keberhasilan pengurangan sampah dari sumber hanya bisa dicapai melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta dan komunitas lingkungan.

Deklarasi tersebut rencananya dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri dan Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, serta sejumlah pejabat tinggi negara. Berbagai kegiatan edukatif dan interaktif juga disiapkan untuk mendekatkan budaya memilah sampah kepada masyarakat.

Warga dapat mengikuti aktivitas menabung sampah anorganik yang menunjukkan bahwa sampah yang dipilah dengan baik memiliki nilai ekonomi. Sejumlah kolaborator dalam Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan Hidup Klaster Persampahan seperti Rekosistem, Plasticpay, Paragon Technology & Innovation, Rumah Sosial Kutub, dan berbagai mitra lainnya turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Selain kampanye edukasi dan penayangan video lingkungan, DLH DKI Jakarta juga mengerahkan 200 petugas kebersihan beserta sarana pendukung untuk menjaga kawasan tetap bersih selama kegiatan berlangsung. Fasilitas yang disiagakan meliputi road sweeper, truk compactor listrik, bus toilet, dust bin, hingga tangki air bersih dan air kotor.

Gerakan memilah sampah dari rumah dinilai bukan hanya soal kebersihan kota, tetapi juga menyangkut masa depan lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga keberlanjutan ekonomi perkotaan. Di tengah pertumbuhan Jakarta menuju kota global, budaya pengelolaan sampah yang disiplin menjadi bagian penting dari wajah peradaban kota modern.

“Gerakan memilah sampah organik, anorganik, limbah B3 rumah tangga, dan residu dari sumber merupakan langkah sederhana, tetapi berdampak besar bagi masa depan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkas Dudi.

Melalui gerakan ini, Pemprov DKI berharap kesadaran menjaga lingkungan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi budaya baru warga Jakarta demi mewariskan kota yang lebih sehat, bersih, dan layak bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *