Andra Soni Dorong Sampah Jadi Listrik, Banten Siapkan PSEL di Tangerang dan Serang

Navaswara.com – Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih optimal, termasuk mengolahnya menjadi energi listrik.

Hal itu disampaikan Andra saat menerima kunjungan rombongan praktisi pengolahan sampah dari PT Solusindo Sampah Energi di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Rabu (6/5).

Menurut Andra, Banten telah mendapat dukungan dari pemerintah pusat untuk pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di dua kawasan utama.

“Provinsi Banten mendapatkan komitmen dari pemerintah pusat untuk PSEL di Tangerang Raya dan Serang Raya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rencana pengembangan PSEL di Tangerang Raya kini disesuaikan dengan meningkatnya volume sampah. Wilayah tersebut kemungkinan akan dibagi menjadi dua lokasi, termasuk di Kota Tangerang Selatan.

“Ke depan, Kabupaten Tangerang juga ingin memiliki PSEL sendiri,” katanya.

Proyek PSEL Serang Raya akan mencakup Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Adapun Kabupaten Lebak dan Pandeglang hingga kini belum memiliki fasilitas serupa.

Andra juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Banten berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten/kota, termasuk dalam hal pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Provinsi tidak memiliki TPA. Pengelolaan sampah ada di kabupaten dan kota karena mereka yang menarik retribusi,” jelasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banten, Wawan Gunawan, mengatakan kunjungan tersebut juga menjadi ajang pemaparan teknologi pengolahan sampah menjadi energi uap.

Menurutnya, perusahaan tersebut telah melakukan kajian di kawasan industri petrokimia di Kota Cilegon.

“Tinggal komitmen perusahaan dengan calon pengguna (offtaker) uap yang dihasilkan,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Solusindo Sampah Energi, Mahathir, menjelaskan pihaknya menggunakan teknologi asal Jepang, Kanadevia, yang telah diterapkan di sejumlah negara.

“Teknologi ini tidak memerlukan pemilahan sampah,” katanya.

Ia menyebut, teknologi tersebut lebih efisien karena tidak membutuhkan lahan besar untuk penampungan dan menghasilkan residu yang lebih sedikit.

“Asap pembakaran bisa diolah kembali menjadi gas metana atau bahan bakar dari plastik,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Profesor Minoru Fujii dari National Institute for Environmental Studies turut memaparkan keunggulan teknologi tersebut, termasuk efisiensi biaya dibandingkan energi konvensional serta dampaknya yang lebih ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *