Sinergi Gen Z dan Senior di Era AI, Strategi Jitu Perusahaan Agar “Naik Kelas”

Navaswara.com – Tren rekrutmen di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menunjukkan pergeseran unik. Sejumlah perusahaan kini mulai melirik kembali tenaga kerja senior yang dinilai memiliki kematangan pengalaman. Di sisi lain, talenta muda seperti Gen Z kerap merasa khawatir akan masa depan karier mereka.

Menanggapi fenomena ini, Chief People Officer tiket.com, Dudi Arisandi, menilai bahwa kunci keberhasilan organisasi di masa depan bukan terletak pada pemilihan salah satu generasi, melainkan pada kemampuan menggabungkan energi anak muda dengan kebijaksanaan profesional senior.

Dalam episode perdana podcast Power Talks oleh Jobstreet by SEEK, Dudi membagikan lima strategi penting bagi pemimpin HR untuk membangun kekuatan kerja yang tangguh di era digital.

1. Rekrutmen Berbasis Skill, Bukan Almamater

Dudi menyoroti adanya ketimpangan antara jumlah pencari kerja yang tinggi dengan kebutuhan industri atau talent shortage. Menurutnya, masalah utama bukan pada kuantitas, melainkan keselarasan keterampilan.

Ia menegaskan bahwa perusahaan progresif kini sudah meninggalkan pola rekrutmen berbasis prestise kampus. Di tiket.com, kemampuan kandidat untuk mengeksekusi pekerjaan menjadi indikator utama.

“Hentikan penyaringan kandidat berdasarkan rentang usia atau reputasi kampus semata. Definisikan kapabilitas yang benar-benar dibutuhkan, lalu bangun proses seleksi yang menguji skill tersebut,” ungkapnya.

2. Berhenti Menyalahkan, Mulai Mendukung Gen Z

Narasi negatif yang melabeli Gen Z sebagai generasi yang sulit dikelola dianggap sebagai penghambat pertumbuhan. Dudi mengajak para pemimpin perusahaan untuk mengubah pola pikir dari mengkritik menjadi membimbing.

Ia melihat bahwa tantangan terbesar talenta muda saat ini adalah soft competency, seperti kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan kecerdasan emosional. Hal-hal ini tidak bisa tumbuh secara instan tanpa arahan yang jelas.

“Perlakukan Gen Z sebagai talenta potensial yang butuh coaching. Investasikan waktu dalam mentoring dan berikan umpan balik yang jujur,” tambahnya.

3. Standarisasi “Reverse Mentoring”

Kolaborasi antar-generasi dapat diwujudkan melalui program reverse mentoring. Dalam format ini, profesional senior berbagi kebijaksanaan organisasi, sementara talenta muda memberikan literasi digital dan kreativitas baru.

Dudi menceritakan pengalamannya sendiri sebagai “generasi PowerPoint” yang kini belajar menggunakan berbagai alat desain digital langsung dari timnya dan anggota keluarga yang lebih muda. Sinergi ini memastikan semua level tetap relevan dengan perkembangan teknologi.

4. Fokus pada Kapasitas Pengambilan Keputusan

Di tengah otomatisasi pekerjaan administratif oleh AI, hard skill teknis saja kini tidak lagi cukup. Nilai lebih seorang manusia kini terletak pada authentic judgement atau kemampuan memahami konteks dan mengambil keputusan yang tepat.

Dudi menyarankan perusahaan untuk meningkatkan bobot penilaian pada aspek pemikiran analitis dan pengelolaan pemangku kepentingan (stakeholder) dalam deskripsi pekerjaan mereka. Di area inilah, kolaborasi antara energi muda dan pengalaman senior akan saling menguatkan.

5. Strategi SDM Melalui Kerangka “5B”

Untuk membangun organisasi yang tidak rapuh, Dudi mendorong penerapan strategi talenta jangka panjang yang disebut “5B”:

  • Build: Mengembangkan talenta internal secara maksimal.

  • Buy: Merekrut tenaga ahli dari luar jika keterampilan kritis belum tersedia di dalam.

  • Borrow: Memanfaatkan pekerja lepas atau outsourcing untuk proyek tertentu.

  • Bridging: Melakukan rotasi talenta lintas fungsi.

  • Bot: Mengotomasi pekerjaan repetitif menggunakan teknologi.

Sebagai penutup, Dudi menekankan bahwa teknologi boleh terus berubah, namun nilai kolaborasi manusia tetap menjadi pondasi utama.

“Kuncinya bukan memilih antara talenta muda atau senior, tapi bagaimana pemimpin menggabungkan energi Gen Z dengan kebijaksanaan generasi sebelumnya. Kalau kita berhenti mencari kesalahan lalu mulai membantu membangun kompetensi, saya yakin perusahaan di Indonesia bisa naik kelas di era AI ini,” tutup Dudi Arisandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *