Menko PMK Tekankan Pentingnya Link-Match-Meaning, Pastikan Kerja Sama Vokasi-Industri Berdampak Nyata

Navaswara.com – Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa masa depan pendidikan vokasi tidak bisa lagi berjalan seperti biasa. Harus ada keterhubungan yang jelas dengan industri, kesesuaian dengan kebutuhan kerja, dan yang lebih penting, ada makna nyata bagi masyarakat.

Pesan itu ia sampaikan saat membuka Konferensi Tahunan Ketiga Aliansi Cina–Indonesia TVET Industri–Pendidikan (CITIEA) 2026 di Universitas Gadjah Mada, Senin (27/4). Forum ini menjadi ruang bertemunya kampus, industri, dan mitra internasional untuk menyamakan arah pengembangan sumber daya manusia.

Menurut Pratikno, konsep “link, match, and meaning” bukan sekadar jargon. Link berarti pendidikan harus terhubung langsung dengan dunia industri. Match berarti keterampilan lulusan benar-benar sesuai kebutuhan pasar. Sementara meaning, ini yang sering terlewat, yakni bagaimana ilmu dan keterampilan itu memberi dampak nyata, bukan hanya untuk individu, tapi juga untuk masyarakat luas.

Ia menekankan, Indonesia tidak cukup hanya mencetak tenaga kerja yang siap pakai. Yang dibutuhkan adalah SDM yang juga mampu membuka peluang baru. Orang-orang yang tidak hanya mencari kerja, tetapi juga menciptakan kerja.

Arahan ini sejalan dengan dorongan Prabowo Subianto yang menempatkan penguatan vokasi sebagai salah satu fondasi pembangunan ekonomi ke depan. Pemerintah melihat bahwa kualitas tenaga kerja akan sangat menentukan daya saing Indonesia di tengah perubahan global yang cepat.

Di forum itu, Pratikno juga menyoroti realitas yang tidak bisa dihindari: disrupsi. Mulai dari kecerdasan artifisial, perubahan iklim, sampai dinamika geopolitik. Semua ini, kata dia, tidak bisa hanya dilihat sebagai ancaman. Justru di situlah ruang inovasi terbuka.

Ia memberi contoh sederhana tapi dekat: sektor pertanian. Perubahan iklim membuat pola tanam makin sulit diprediksi. Di sinilah peran kampus dan industri dibutuhkan, mencari solusi berbasis teknologi agar produktivitas tetap terjaga. Hal yang sama berlaku untuk nelayan, pelaku UMKM, hingga akses pendidikan di daerah terpencil.

Kerja sama internasional pun menjadi bagian penting. Indonesia dan Cina, melalui forum CITIEA, mulai memperkuat kolaborasi yang lebih konkret. Tidak berhenti pada diskusi, tetapi masuk ke kerja sama nyata seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, hingga pengembangan program akademik dan budaya.

Sejumlah tokoh hadir dalam agenda ini, mulai dari Staf Khusus Mendiktisaintek Oki Earlivan Sampurno, Rektor UGM Ova Emilia, hingga mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda. Hadir pula perwakilan industri dan mitra internasional yang memperlihatkan bahwa isu vokasi memang tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri.

Di tengah semua itu, satu pesan Pratikno terasa paling membumi: pendidikan vokasi harus terasa manfaatnya. Bukan hanya di ruang kelas atau pabrik, tapi sampai ke desa, ke petani, ke masyarakat luas. Dari situ, makna “meaning” benar-benar hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *