Navaswara.com – Dunia usaha di Indonesia sedang dikejutkan oleh lonjakan harga plastik yang tidak main-main. Sejak awal April 2026, harga berbagai jenis kemasan plastik melambung drastis mulai dari 30 persen hingga menyentuh angka 100 persen. Kondisi ini membuat para pedagang pasar dan pelaku UMKM menjerit karena biaya operasional mereka membengkak seketika. Sebagai gambaran nyata, kantong kresek yang biasanya hanya Rp10.000 per pak kini melonjak menjadi kisaran Rp17.000. Bahkan gelas plastik cup dalam jumlah besar yang semula dibanderol Rp280.000 sekarang sudah menembus angka Rp500.000.
Situasi ini bukan sekadar kenaikan harga musiman biasa. Kenaikan ini sebenarnya sudah mulai merangkak sejak akhir Februari 2026 secara bertahap sekitar Rp500 hingga Rp700 setiap minggunya. Lonjakan ini memberikan tekanan besar pada struktur biaya di tingkat hulu yang akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Badai dari Selat Hormuz yang Mengguncang Industri Domestik
Akar masalah dari krisis ini terletak jauh di luar perbatasan Indonesia, tepatnya di kawasan Timur Tengah. Konflik bersenjata yang terjadi di sana telah mencekik jalur distribusi bahan baku petrokimia dunia. Sekitar 84 persen kapasitas produksi bahan plastik bergantung pada Selat Hormuz sebagai urat nadi ekspor lewat laut. Ketika jalur ini terganggu, pasokan nafta yang merupakan bahan baku utama plastik terhenti hingga 70 persen. Kelangkaan ini semakin diperparah oleh kebijakan Korea Selatan yang melarang ekspor nafta demi mengamankan kebutuhan dalam negerinya sendiri.
Selain masalah kelangkaan, durasi pengiriman pun menjadi kendala yang sangat serius. Jika biasanya pengiriman bahan baku hanya memakan waktu sekitar 15 hari, kini para produsen harus menunggu hingga 50 hari karena kapal-kapal harus mencari jalur alternatif yang lebih aman. Mengingat 60 persen bahan baku plastik Indonesia masih berasal dari luar negeri, harga domestik pun menjadi sangat rapuh terhadap gangguan global ini. Para ahli bahkan menyebut pola anomali harga saat ini mulai menyerupai masa-masa krisis hebat pada tahun 1998 dan 2008 yang lalu.
Langkah Darurat dan Siasat Bertahan di Tengah Harga Normal Baru
Menghadapi kondisi yang disebut sebagai harga normal baru ini, industri dan pemerintah mulai mengambil langkah-langkah luar biasa. Kementerian Perindustrian mendorong pabrik-pabrik untuk mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku pengganti darurat guna menutupi celah kekurangan nafta. Di sisi lain, asosiasi industri seperti Inaplas mulai mengusulkan peningkatan komposisi bahan daur ulang dalam setiap produk plastik, dari yang sebelumnya hanya 10 persen menjadi 30 persen. Hal ini dilakukan agar produksi tetap berjalan meski pasokan bahan baku murni sedang tersendat.
Para pengusaha kemasan pun tidak tinggal diam dengan mulai beralih dari bahan polipropilena ke film poliester yang lebih stabil harganya, atau bahkan mulai menawarkan kemasan berbahan kertas. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan bahwa pemerintah sedang aktif mencari sumber pasokan dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan memastikan bahwa pemerintah terus memantau situasi di lapangan karena hampir seluruh pedagang di berbagai pasar mengeluhkan hal yang sama. Dia juga meminta para pelaku industri untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan gegabah di tengah tekanan biaya yang nyata ini.
