Gebrakan Shinta Kamdani Menjaga Resiliensi Industri Bersama APINDO

Inspirasi Menavigasi Badai Ekonomi dengan Prinsip 3P

Navaswara.com – Langkahnya mengukir sejarah baru dalam dunia usaha nasional sebagai Ketua Umum perempuan pertama APINDO. Mengabdi selama 25 tahun di organisasi ini, Shinta Widjaja Kamdani membawa visi kesetaraan yang kuat untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia ke depan.

Kepercayaan tersebut lahir dari dedikasi panjang lulusan Columbia University yang telah mengabdi di organisasi tersebut selama hampir seperempat abad. Pengalaman selama bertahun-tahun menempa sosoknya untuk memahami setiap lekuk dinamika industri nasional.

“Pada tahun 2023, saya terpilih sebagai ketua umum perempuan pertama APINDO. Tentunya merupakan tanggung jawab yang sangat besar buat saya,” ungkapnya kepada Navaswara.

Strategi regenerasi dinamis pun digulirkan di tubuh internal organisasi. Di bawah kepemimpinan CEO Sintesa Group ini, komposisi kepengurusan sengaja dirancang dengan mengedepankan keberagaman latar belakang serta keseimbangan gender guna memancing lahirnya inovasi segar. Langkah ini mempertemukan kolaborasi lintas usia sebagai kunci utama dalam memperkuat struktur organisasi yang semakin solid sekaligus adaptif.

Upaya tersebut berujung pada satu misi besar, yakni menciptakan iklim usaha yang kondusif demi terbukanya lapangan kerja baru. Shinta menegaskan bahwa isu ketenagakerjaan tetap menjadi roh perjuangan Apindo dalam setiap langkah advokasi kebijakan. Fokus ini pun mencakup perluasan investasi hingga pemberdayaan masif bagi sektor UMKM lokal yang tersebar di pelosok nusantara.

“Kami ingin menciptakan iklim usaha yang kondusif, kompetitif, berkelanjutan untuk penciptaan lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Misi Penguatan UMKM dan Standar Baru Bisnis Berkelanjutan

Jangkauan organisasi APINDO memang tergolong sangat luas dengan mencakup 15 ribu anggota yang tersebar di 38 provinsi serta didukung ratusan kantor cabang. Kekuatan basis massa yang besar ini dimanfaatkan untuk menyusun Roadmap Perekonomian yang rutin diserahkan kepada pemerintah. Rekomendasi strategis tersebut dirumuskan berdasarkan hasil survei mendalam terhadap ribuan perusahaan skala nasional secara komprehensif.

Di sisi lain, Shinta juga mendorong integrasi pelajar melalui program UMKM Merdeka guna memberikan pengalaman magang berkualitas di sektor industri kecil. Upaya ini dinilai krusial mengingat ada sekitar 65 ribu UMKM yang telah menjadi bagian inti dari ekosistem Apindo. Sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha ini diharapkan mampu mencetak generasi pengusaha baru yang lebih kompeten di masa depan.

Namun langkah ini tidaklah mudah karena ketidakpastian global akibat konflik internasional kini menjadi tantangan nyata. Shinta menyoroti pentingnya menjaga ketahanan pangan dan energi nasional agar Indonesia tidak tergantung pada negara lain. Resiliensi ekonomi menjadi harga mati dalam menghadapi situasi dunia yang terus berubah.

“Kondisi geopolitik saat ini luar kendali kita dan penuh ketidakpastian. Suasana badan pangan, suasana badan energi ini menjadi prioritas,” ujarnya.

Kenaikan biaya logistik dan volatilitas nilai tukar Rupiah sangat mengganggu sektor industri manufaktur dalam negeri. Hal ini terjadi karena mayoritas bahan baku produksi masih bergantung pada jalur impor yang mahal. Shinta mengingatkan pemerintah agar tidak lagi mempersulit perizinan investasi serta operasional usaha.

Fenomena sektor informal yang membengkak hingga di atas 60% juga menjadi perhatian serius bagi sang Ketua Umum. Shinta menilai industri formal belum cukup mampu menyerap tenaga kerja secara optimal. Oleh karena itu perlu ada kebijakan yang memihak pada kemudahan berusaha demi kestabilan ekonomi nasional.

Penerapan prinsip ESG kini bukan lagi sekadar tren melainkan syarat mutlak untuk menembus pasar ekspor global. Oleh karenanya, Shinta menekankan bahwa bisnis modern harus menyeimbangkan aspek profit dengan kepedulian terhadap lingkungan serta sosial. Filosofi keberlanjutan menjadi standar baru dalam operasional seluruh pelaku industri besar maupun kecil.

“Kalau mereka mau mengekspor produk, mereka juga harus memperhatikan isu-isu ESG-nya ini wajib masuk. Standar ESG ini harus ada,” tegasnya.

Shinta melihat potensi besar pada pelaku UMKM yang faktanya didominasi oleh kaum perempuan Indonesia. Karakter perempuan yang pantang menyerah dan memiliki resiliensi tinggi menjadi fondasi kuat bagi perekonomian nasional. Kekuatan inilah yang harus terus didorong oleh pemerintah agar mereka mampu naik kelas.

Filosofi Keberhasilan dan Dedikasi Tanpa Instan

Ketangguhannya sejalan dengan perjalanan bisnis yang dimulai sejak usia belia yang telah mengasah naluri bisnisnya sejak dini. “Dari usia 13 tahun saya mulai jualan buku dan lain-lain, setiap liburan sekolah saya bekerja. Aspek bisnis keluarga ini sudah naluri,” ungkap sosok yang terpapar bisnis sejak muda di bawah arahan sang ayah, Johnny Widjaja. Bagi Shinta, setiap tantangan adalah sekolah kehidupan yang menempa mentalitas seorang pemimpin perempuan yang berani dan sejati.

Kepada generasi muda Shinta menitipkan pesan emas yang dirangkum dalam prinsip 3P untuk menghadapi persaingan. Ia menekankan pentingnya memiliki tujuan hidup yang jelas serta gairah dalam setiap pekerjaan yang ditekuni. Keteguhan hati adalah modal utama dalam menghadapi badai ekonomi yang dinamis.

“Pertama adalah purpose, yang kedua adalah passion, yaitu kita harus love what we are doing, dan yang ketiga adalah perseverance atau kerja keras. Jatuh bangun itu biasa, kalau kita jatuh 10 kali ya bangun 10 kali,” ujarnya.

Melalui prinsip tersebut Shinta berharap anak muda mampu menghadapi persaingan global dengan mentalitas yang tangguh dan adaptif. Keberhasilan tidak datang secara instan melainkan melalui dedikasi panjang dan kerja keras tanpa henti. Sosok Shinta Kamdani kini berdiri sebagai perwujudan bahwa kepemimpinan perempuan dapat membawa integritas serta visi besar bagi masa depan dunia usaha.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *