UN Women Beri Penghargaan kepada 18 Perusahaan Pendukung Kesetaraan Gender

Navaswara.com — Perempuan memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian, termasuk melalui usaha yang mereka bangun dan pekerjaan di sektor perawatan. Namun, perjalanan untuk mengembangkan usaha maupun memperoleh kesempatan kerja yang layak masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Akses terhadap pembiayaan, pelatihan bisnis, hingga jangkauan pasar menjadi sejumlah hambatan yang membuat banyak usaha milik perempuan sulit berkembang ke skala lebih besar.

Laporan Gender-Responsive Procurement in Asia and the Pacific, An Opportunity for an Equitable Future yang disusun Asian Development Bank (ADB) dan UN Women mengidentifikasi persoalan tersebut sebagai tantangan yang masih dihadapi perempuan dalam dunia usaha. Salah satu upaya yang dapat membantu membuka peluang lebih luas adalah gender-responsive procurement (GRP), yakni praktik pengadaan barang dan jasa yang mempertimbangkan kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan.

Melalui GRP, perusahaan dan organisasi didorong untuk memberi ruang lebih besar bagi usaha milik perempuan maupun perusahaan yang memiliki komitmen terhadap kesetaraan gender. Praktik ini juga dapat memperluas kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam rantai pasok, memperoleh mitra bisnis, dan mengembangkan kapasitas usahanya.

Salah satu sektor yang berpotensi memperoleh manfaat dari praktik tersebut adalah care economy atau ekonomi perawatan. Sektor ini berkaitan dengan berbagai pekerjaan yang memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan emosional seseorang, mulai dari pengasuhan anak, perawatan lansia, hingga pendampingan penyandang disabilitas. Selama ini, perempuan memiliki kontribusi besar dalam pekerjaan perawatan, baik yang dilakukan secara profesional maupun dalam lingkup keluarga.

Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama International Labour Organization (ILO) telah menyusun Peta Jalan Ekonomi Perawatan 2026. Kerangka kerja tersebut memuat tujuh isu strategis, termasuk pengakuan dan perlindungan pekerja perawatan serta penguatan jaminan sosial di sektor ekonomi perawatan.

Penerapan GRP dapat mendukung penguatan sektor ini melalui dua hal. Pertama, memperluas kapasitas usaha milik perempuan atau women-owned businesses (WOBs), sekaligus mendorong keterlibatan perusahaan yang responsif gender atau gender-responsive enterprises (GREs) dalam memenuhi kebutuhan pasar dan berbagi pengetahuan. Kedua, membuka peluang peningkatan kesejahteraan pekerja perawatan. Perbaikan kondisi kerja dan ketersediaan layanan perawatan yang lebih baik diharapkan turut mendukung peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan.

Komitmen terhadap kesetaraan gender juga mulai terlihat di berbagai sektor bisnis. Salah satu bentuk apresiasinya hadir melalui penyelenggaraan Women’s Empowerment Principles (WEPs) Awards 2026 Indonesia oleh UN Women. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang menunjukkan upaya nyata dalam mendorong kesetaraan gender di lingkungan kerja, pasar, rantai pasok, hingga komunitas.

“GRP adalah salah satu langkah strategis untuk memperluas partisipasi perempuan dalam perekonomian. Melalui praktik ini, perusahaan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi usaha milik perempuan sekaligus mendorong praktik bisnis yang lebih inklusif. Upaya ini perlu didukung oleh ekosistem yang memberi perempuan kesempatan untuk mengembangkan usaha dan berpartisipasi dalam rantai nilai ekonomi,” ujar Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia.

WEPs Awards 2026 Indonesia menetapkan 18 pemenang dari 142 aplikasi yang diajukan oleh 94 perusahaan. Jumlah partisipasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak penghargaan ini pertama kali digelar pada 2020. Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan partisipasi tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Salah satu penerima penghargaan tahun ini adalah L’Oréal Indonesia yang memenangkan kategori Inclusive Procurement. Melalui Inclusive Sourcing Programme, perusahaan ini berupaya memperluas kesempatan ekonomi bagi kelompok masyarakat yang selama ini kurang terlayani, termasuk perempuan, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.

Hingga 2025, program tersebut telah membantu membuka lebih dari 1.600 kesempatan kerja penuh waktu. L’Oréal Indonesia juga mencatat bahwa 73% dari 40 vendor utamanya telah bertanggung jawab dalam mendukung pelaksanaan program tersebut.

“Bagi L’Oréal, GRP merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok yang mampu menciptakan nilai tambah bagi bisnis sekaligus masyarakat. Melalui Inclusive Sourcing Programme, kami berupaya memperluas kesempatan bagi kelompok masyarakat yang kurang terlayani untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, baik melalui kesempatan kerja maupun kemitraan dengan pemasok,” kata Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia.

Kisah lain datang dari Komodo Water, social enterprise yang bergerak di bidang penyediaan akses air bersih dan pengelolaan air berkelanjutan. Organisasi ini meraih penghargaan Special Mention – SME Champion atas kontribusinya dalam menghadirkan solusi yang berdampak bagi masyarakat.

Sejak 2012, Komodo Water telah menyediakan akses air bersih dan air minum dengan harga terjangkau bagi masyarakat di kawasan terpencil Taman Nasional Komodo dan Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketersediaan air bersih membantu mengurangi waktu yang sebelumnya harus dihabiskan perempuan dan anak-anak untuk mencari air. Waktu tersebut kini dapat dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, maupun melakukan kegiatan produktif lainnya.

“Kami sangat mengapresiasi WEPs Awards karena memberikan perhatian lebih besar terhadap peran perempuan di berbagai sektor. Penghargaan ini mengingatkan kita bahwa perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam memperoleh akses terhadap peluang dan sumber daya. Inisiatif pemberdayaan perlu memberi ruang bagi perempuan untuk mengambil keputusan, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat,” tutur Shana Fatina, CEO dan Founder Komodo Water.

Sementara itu, AKAR Family yang meraih posisi Second Runner-up dalam kategori Gender-Inclusive Workplace memperlihatkan kontribusi sektor ekonomi perawatan dalam mendukung keberlanjutan karier perempuan. Organisasi yang berdiri sejak 2015 ini membantu menyediakan jalur karier yang lebih terstruktur bagi tenaga pendidik dan pengasuh anak melalui pengembangan keterampilan teknis, keterampilan interpersonal, serta evaluasi kinerja.

Yasmina Hasni, CEO AKAR Family, menilai lingkungan kerja yang ramah keluarga dan dukungan terhadap layanan perawatan dapat membantu perempuan mempertahankan karier tanpa harus mengabaikan tanggung jawab pengasuhan.

“Semakin banyak perusahaan yang memiliki inisiatif care dan lingkungan kerja ramah keluarga, semakin banyak pula perempuan, khususnya para ibu, yang dapat tetap bekerja tanpa harus mengorbankan peran pengasuhan. Anak tidak kehilangan ibunya, dan perempuan tidak perlu kehilangan pekerjaannya,” ujarnya.

Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Akses terhadap pasar, pembiayaan, pelatihan, serta lingkungan kerja yang mendukung menjadi bagian penting agar perempuan memiliki kesempatan lebih luas untuk berkembang. Keterlibatan dunia usaha melalui praktik pengadaan yang responsif gender pun dapat membantu menciptakan rantai pasok yang lebih inklusif, sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat.