Membangun Kebiasaan Finansial Sehat Sejak Remaja Lewat Program Permata CERITA 2026

Navaswara.com —  Mengajarkan anak mengelola uang tidak harus menunggu mereka dewasa atau memiliki penghasilan sendiri. Kebiasaan sederhana, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan serta menyisihkan uang jajan untuk ditabung, bisa menjadi awal bagi remaja untuk mengenal tanggung jawab finansial.

Kemampuan mengelola uang jajan menjadi salah satu bekal penting bagi remaja untuk belajar mandiri secara finansial. Kebiasaan kecil ini dapat membantu mereka mengambil keputusan keuangan dengan lebih bijak.

Melihat pentingnya edukasi tersebut, Permata Bank kembali menghadirkan Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 melalui program tanggung jawab sosial Permata Hati. Mengusung tema “24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA”, program ini menyasar siswa SMP di 24 kota di Indonesia dengan melibatkan lebih dari 500 karyawan relawan atau Employee Volunteers (EVO).

Program ini hadir ketika pemahaman keuangan di kalangan remaja masih perlu diperkuat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun tercatat sebesar 56,04 persen.

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, literasi keuangan perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda mampu menggunakan layanan keuangan sekaligus mengambil keputusan secara bijak. Melalui Permata CERITA, siswa diajak belajar dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Belajar Mengatur Uang Jajan

Dalam pelaksanaannya, Permata CERITA 2026 menghadirkan MODul finansiAL (MODAL) dengan materi smart spending. Melalui sesi interaktif bersama para relawan, siswa belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas belanja, menunda keinginan, serta menyisihkan uang untuk ditabung.

Siswa juga diperkenalkan pada pembayaran digital, seperti QRIS dan transfer daring, agar dapat memahami penggunaan layanan keuangan secara bijak. Materi disampaikan melalui permainan, simulasi, dan latihan mengambil keputusan sehingga lebih mudah diterapkan dalam keseharian.

Kegiatan di MTs Imadun Najah, Jakarta Utara, turut mendapat dukungan dari perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Agama.

Kepala Divisi Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK Halimatus Sa’diyah mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, peningkatan literasi keuangan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk industri perbankan dan lembaga pendidikan, agar masyarakat semakin mampu mengambil keputusan finansial secara tepat.

Mengenali Risiko Transaksi Digital

Selain mengatur uang, siswa dibekali pengetahuan untuk mengenali risiko penipuan digital. Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), terdapat 702.342 laporan penipuan sepanjang 22 November 2024 hingga 30 September 2026, dengan total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun.

Melalui metode 3A, yaitu Amati, Awasi, dan Adukan, siswa diajak mengenali aktivitas mencurigakan serta menjaga informasi pribadi. Mereka juga diingatkan untuk tidak membagikan PIN maupun kode OTP dan meminta bantuan orang tua atau guru ketika menghadapi situasi yang berisiko.

Kecakapan digital dengan demikian mencakup kemampuan menggunakan teknologi sekaligus memahami cara melindungi diri saat bertransaksi.

Sejak 2016 hingga 2025, Permata CERITA telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat di berbagai kota tempat Permata Bank beroperasi. Melalui pelaksanaan di 24 kota pada 2026, program ini melanjutkan upaya edukasi keuangan bagi generasi muda agar lebih siap mengelola uang dan menghadapi perkembangan transaksi digital.