Transportasi Jakarta Didorong Semakin Inklusif dan Terintegrasi

Navaswara.com – Transformasi transportasi Jakarta tidak lagi cukup diukur dari bertambahnya armada, pembangunan jalan, halte, atau jaringan kereta. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh sistem tersebut benar-benar terhubung dengan kehidupan warga, sejak keluar dari rumah hingga tiba di tempat tujuan.

Persoalan akses pejalan kaki, konektivitas menuju halte dan stasiun, kebutuhan penyandang disabilitas, penggunaan kendaraan pribadi, kualitas udara, hingga pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari pembahasan dalam diskusi transportasi perkotaan yang digelar di Jakarta, Jumat (18/9/2026) dengan tema ”Refleksi dan Arah Gerakan Transportasi Perkotaan” hadir dalam acara tersebut Bambang Susantono, Darmaningtyas, Ari Muhammad, serta  dari berbagai komunitas pegiat transportasi.

Ari Muhammad menekankan bahwa transportasi yang inklusif harus dimulai sejak warga keluar dari rumah. Kondisi trotoar, jalan yang berlubang, hambatan di jalur pedestrian, serta akses yang belum sepenuhnya aman bagi penyandang disabilitas menunjukkan bahwa keberhasilan transportasi tidak cukup hanya diukur dari kualitas armada. “Harapan kami ke depan, Kota Jakarta ini menjadi kota yang ramah untuk semua masyarakat tanpa kecuali,” ujarnya. Karena itu, konektivitas first mile–last mile menjadi bagian penting agar masyarakat dapat melakukan perjalanan dari rumah hingga tempat aktivitas secara aman dan mandiri.

Pemerhati transportasi Darmaningtyas menekankan pentingnya melihat pembangunan kota secara lebih luas. Infrastruktur transportasi, menurut perspektif yang disampaikan dalam diskusi, tidak seharusnya hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menghadirkan ruang dan pelayanan yang dapat digunakan masyarakat.

Jakarta membutuhkan lebih banyak ruang yang mendukung mobilitas warga serta memperkuat keberadaan transportasi umum. Pengembangan tersebut perlu dilakukan secara merata sehingga fasilitas mobilitas tidak hanya terkonsentrasi di kawasan tertentu.

Sementara itu, Alfikar dari ITDP menyoroti pengalaman pengguna transportasi publik. Menurut perspektif yang disampaikan dalam diskusi, layanan kereta semakin nyaman, tetapi akses menuju stasiun masih menjadi persoalan bagi sebagian warga.

Ke depan, arah gerakan transportasi Jakarta perlu bergerak dari sekadar membangun infrastruktur menuju membangun ekosistem mobilitas. Transportasi publik harus terhubung dengan kawasan permukiman, fasilitas pejalan kaki dan penyandang disabilitas diperkuat, pertumbuhan kendaraan pribadi dikelola, sementara teknologi dan data dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan yang lebih terukur. Dengan pendekatan tersebut, transportasi tidak lagi sekadar persoalan memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun Jakarta yang lebih inklusif, terkoneksi, ramah lingkungan, dan dapat diakses seluruh warga. (RTM)