Navaswara.com — Kecerdasan buatan semakin dekat dengan keseharian manusia. Teknologi tersebut mulai digunakan untuk bekerja, mencari informasi, membuat karya, hingga membantu mengambil keputusan. Ketika kemampuan AI terus berkembang, pertanyaan mengenai peran manusia pun ikut mengemuka. Percakapan tersebut menjadi tema yang diangkat IdeaFest 2026 melalui “Re:Humanize”.
IdeaFest 2026 menghadirkan lebih dari 500 pembicara melalui lebih dari 160 sesi, serta berbagai experiential activations, creative marketplace, dan kolaborasi lintas industri. Pembahasan yang diangkat mencakup AI, kreativitas, bisnis, entertainment, budaya, teknologi, komunitas, hingga perubahan cara manusia bekerja dan menghasilkan karya.
Tema “Re:Humanize” hadir seiring penggunaan AI yang semakin luas di Indonesia. Data PwC menunjukkan 69 persen pekerja di Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir, sementara 16 persen menggunakannya setiap hari.
Perkembangan tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat sektor tersebut berkontribusi lebih dari Rp1.500 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja. AI pun mulai dipandang sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung inovasi di berbagai subsektor kreatif, seperti desain, animasi, gim, aplikasi, dan digital marketing.
Selama 15 tahun penyelenggaraannya, IdeaFest telah mempertemukan lebih dari 2.500 pembicara nasional dan internasional melalui lebih dari 1.000 sesi. Jumlah pengunjung yang tercatat sepanjang perjalanan festival tersebut telah mencapai lebih dari 200.000 orang.
“Selama 15 tahun, IdeaFest telah mempertemukan lebih dari 2.500 pembicara nasional dan internasional melalui lebih dari 1.000 sesi, dan menjadi bagian dari perjalanan lebih dari 200.000 pengunjung. Tahun ini, melalui ‘Re:Humanize’, kami ingin mengajak publik melihat kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI dan bagaimana teknologi dapat memperluas potensi manusia tanpa kehilangan kreativitas, empati, dan makna,” ujar Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest.
Membaca Kebutuhan Industri Kreatif
Pemilihan tema tahun ini turut merujuk pada evaluasi Populix terhadap IdeaFest 2025. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan audiens terhadap pembahasan mengenai perkembangan industri kreatif dan hubungan antara manusia dengan AI.
Kebutuhan tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam kurasi IdeaFest 2026. Percakapan yang dihadirkan tidak berhenti pada perkembangan teknologi, tetapi diarahkan pada bagaimana manusia menggunakan teknologi, menentukan arah, dan mempertahankan unsur kreativitas serta koneksi dalam proses tersebut.
Melalui lebih dari 160 sesi IdeaTalks, para pembicara dari berbagai latar belakang membahas perubahan yang terjadi akibat perkembangan AI sekaligus peluang yang muncul bagi industri kreatif.
Sejumlah nama yang hadir antara lain Tom Lembong, Najwa Shihab, Tony Fernandes, Boon Ken Wong, Pandji Pragiwaksono, Kamila Andini, Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, Sherina Munaf, Veronica Utami, Agnes Rahajeng, Herald van der Linde, Vikram Sinha, dan Kavindra Airlangga.
Content Lead & BrainTrust IdeaFest Firdza Radiany mengatakan, kurasi tahun ini berangkat dari pertanyaan mengenai posisi manusia ketika teknologi berkembang semakin cepat. Karena itu, IdeaFest mempertemukan perspektif dari berbagai industri dan generasi untuk membicarakan perubahan tersebut dari beragam sudut pandang.
Menempatkan AI sebagai Alat
AI turut menjadi salah satu pembahasan utama karena teknologi tersebut mulai digunakan dalam berbagai aktivitas profesional dan kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat Indonesia memiliki sekitar 185 juta pengguna internet dan 139 juta pengguna media sosial, yang membuka ruang pemanfaatan teknologi AI dalam berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Salah satu perspektif yang dibawa dalam IdeaFest 2026 datang dari Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH), yang mendukung penyelenggaraan festival melalui gagasan “Heartware Inside Hardware”. Perspektif tersebut menempatkan kemampuan teknologi dan kapasitas manusia sebagai dua unsur yang berjalan berdampingan.
SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Ovidia Nomia mengatakan perkembangan AI dapat membantu masyarakat dan industri bekerja lebih cepat sekaligus membuka ruang bagi inovasi.
“AI memberi kita kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat. Namun, manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, dan dampaknya,” ujar Ovidia.
Dari sisi industri kreatif, CEO and Co-Founder Smartick Indonesia Galih Sulistyaningra melihat AI sebagai alat yang dapat membantu mempercepat proses kreatif dan membuka ruang eksplorasi ide. Meski begitu, pengalaman, emosi, intuisi, perspektif, dan pemahaman terhadap konteks tetap memiliki peran penting dalam menghasilkan karya.
Menggabungkan Diskusi dan Pengalaman
Pembahasan mengenai hubungan manusia dan teknologi juga hadir melalui berbagai program di luar panggung diskusi. IdeaFest menghadirkan experiential activations, creative marketplace, dan kolaborasi bersama sejumlah komunitas serta pelaku industri.
Salah satunya melalui kolaborasi dengan JKTGo lewat IdeaFest Picks. Program tersebut menghadirkan brand lokal, UMKM, dan pelaku kreatif dalam sebuah market yang mempertemukan pengunjung dengan produk sekaligus cerita dan proses kreatif di baliknya.
Festival Director IdeaFest Olivia Febrina mengatakan pengalaman langsung menjadi bagian dari pendekatan IdeaFest tahun ini.
“Kami ingin IdeaFest menjadi ruang yang tidak hanya memberikan inspirasi lewat diskusi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengalami, berinteraksi, dan menemukan sesuatu secara langsung,” ujar Olivia.
IdeaFest juga berkolaborasi dengan Collect Con untuk mempertemukan kreator, kolektor, komunitas, dan pelaku industri kreatif. Collect Con Partner Representative Patricia Davina menilai perkembangan teknologi tetap membutuhkan ruang interaksi antarmanusia dan komunitas sebagai tempat bertukar minat serta membangun kolaborasi.
Sementara melalui IdeaFest X, ESCAPE menghadirkan sejumlah instalasi dan interactive activities yang mengajak pengunjung terlibat secara langsung. Seni, kreativitas, teknologi, dan interaksi menjadi bagian dari pengalaman yang dirancang lebih partisipatif.
ESCAPE Representative Verren Ornela mengatakan keterlibatan langsung pengunjung menjadi salah satu unsur penting dalam pengalaman yang mereka hadirkan di IdeaFest.
“Bagi kami, pengalaman terbaik lahir ketika seseorang tidak hanya melihat atau mendengar sebuah ide, tetapi juga merasakannya secara langsung,” ujar Verren.
Melalui rangkaian program tersebut, IdeaFest 2026 menempatkan manusia sebagai salah satu pusat pembahasan ketika AI terus berkembang. Kreativitas, pengalaman, empati, koneksi, serta kemampuan mengambil keputusan menjadi aspek yang kembali dibicarakan ketika teknologi semakin banyak digunakan untuk mendukung pekerjaan dan proses penciptaan.
Lewat tema “Re:Humanize”, IdeaFest membawa percakapan mengenai AI ke ruang yang lebih luas, termasuk bagaimana teknologi digunakan, siapa yang menentukan arahnya, dan bagaimana manusia tetap memiliki peran dalam membentuk masa depan.
