Navaswara.com — Selama bertahun-tahun, lemak di rongga perut dipandang sebagai cadangan energi yang menumpuk ketika asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh. Pemahaman tersebut berubah sejak pertengahan 1990-an, ketika penelitian menunjukkan bahwa sel lemak, terutama yang menumpuk di sekitar organ dalam atau disebut lemak viseral, berfungsi sebagai organ endokrin aktif. Jaringan tersebut menghasilkan hormon dan molekul sinyal yang memengaruhi kerja otak, hati, otot, serta pembuluh darah.
1. Cadangan Energi yang Aktif Mengirim Sinyal
Sekitar 90 persen lemak tubuh manusia merupakan lemak subkutan, yang berada tepat di bawah kulit dan terasa lunak ketika dicubit. Sisanya, sekitar 10 persen, merupakan lemak viseral yang tersembunyi di balik dinding perut, mengelilingi hati, usus, serta organ dalam lain. Sebagian jaringan tersebut tersimpan di omentum, lapisan jaringan yang menyelimuti usus.
Meski proporsinya lebih kecil, lemak viseral dinilai memiliki risiko metabolik yang lebih tinggi dibandingkan lemak subkutan. Jaringan lemak subkutan cenderung menghasilkan lebih banyak molekul yang berkaitan dengan perlindungan metabolik, sedangkan lemak viseral menghasilkan proporsi molekul yang dapat merugikan kesehatan dalam jumlah lebih besar.
2. Sitokin yang Mengalir Menuju Hati
Jaringan lemak viseral menghasilkan protein sinyal yang disebut sitokin, termasuk interleukin-6 atau IL-6 dan tumor necrosis factor-alpha atau TNF-α. Molekul tersebut dapat memicu peradangan tingkat rendah yang berlangsung kronis dan kemudian memengaruhi berbagai proses metabolik.
Posisi lemak viseral ikut menjelaskan risikonya. Sitokin dan asam lemak yang dilepaskan jaringan tersebut dapat mengalir melalui vena porta menuju hati. Paparan tersebut berkaitan dengan resistensi insulin, peradangan hati, serta pada kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap perkembangan fibrosis hati.
3. Dari Peradangan Menuju Penuaan Metabolik
Rangkaian proses tersebut dapat berkaitan dengan penuaan metabolik, yang ditandai oleh resistensi insulin, sindrom metabolik, gangguan fungsi endotel pembuluh darah, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Jaringan adiposa viseral kini dipahami sebagai jaringan metabolik dan inflamasi yang aktif, bukan tempat penyimpanan energi pasif.
Hubungan tersebut tetap perlu dibaca secara hati-hati. Sejumlah peneliti menyebut hubungan sebab-akibat antara lemak viseral dan penyakit metabolik pada manusia belum sepenuhnya terurai. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes pada 2007, misalnya, menyatakan bahwa masih belum jelas apakah lemak viseral sekadar berkaitan dengan penyakit metabolik atau turut menjadi penyebabnya.
4. Jam Epigenetik dan Telomer, Bukti yang Masih Berkembang
Bagian yang lebih rumit muncul ketika pembahasan bergeser ke penuaan seluler. Sejumlah penelitian terbaru mendukung adanya hubungan antara adipositas dan sejumlah penanda penuaan biologis, tetapi kekuatan buktinya berbeda pada setiap indikator.
Studi Mendelian randomization, metode yang menggunakan variasi genetik untuk menguji kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan mengurangi pengaruh sejumlah faktor perancu, menemukan hubungan kausal positif antara indeks massa tubuh atau BMI dan percepatan beberapa jam epigenetik generasi kedua, termasuk GrimAge dan PhenoAge. Hubungan serupa tidak ditemukan pada sejumlah jam generasi pertama seperti HannumAge dan HorvathAge. Penelitian lain pada populasi dengan latar belakang berbeda juga menemukan hubungan antara BMI pada usia dini dan percepatan penuaan epigenetik, sementara aktivitas fisik tampak meredam sebagian efek tersebut.
Penelitian lain menemukan bahwa kelebihan berat badan berkaitan secara kausal dengan pemendekan telomer, peningkatan frailty index, penuaan wajah, serta penurunan estimasi usia harapan hidup. Namun, hasil tersebut tidak seragam pada setiap ukuran tubuh. Studi terbaru dalam Scientific Reports menemukan hubungan kausal antara lingkar pinggang, yang dapat mencerminkan akumulasi lemak viseral, dan pemendekan telomer leukosit. Sebaliknya, rasio pinggang-pinggul yang menggambarkan pola distribusi lemak tidak menunjukkan hubungan kausal serupa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ukuran lemak tubuh tidak memiliki kekuatan bukti yang sama ketika dikaitkan dengan penuaan seluler. Hubungan antara adipositas, distribusi lemak, dan penuaan biologis masih menjadi bidang penelitian yang terus berkembang.
Hubungan antara usia dan distribusi lemak tubuh juga berjalan ke arah sebaliknya. Pertambahan usia cenderung disertai perubahan distribusi lemak, termasuk peningkatan proporsi lemak viseral. Perubahan tersebut dapat meningkatkan peradangan dan gangguan metabolik, sehingga terbentuk hubungan yang saling memperkuat antara proses penuaan, distribusi lemak, dan kesehatan metabolik.
Menjaga lemak viseral tetap terkendali bukan berarti mengejar tubuh kurus, melainkan menjaga metabolisme agar tetap bekerja dengan baik seiring bertambahnya usia. Pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, dan berat badan yang sehat dapat membantu mengurangi penumpukan lemak di sekitar organ sekaligus menjaga tubuh tetap bugar dalam jangka panjang.
