Navaswara.com – Ketahanan energi Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam maupun teknologi. Di baliknya, dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, dunia industri yang adaptif, kebijakan yang selaras, serta inovasi yang terus berkembang. Kesadaran inilah yang menjadi benang merah dalam Sarasehan Vol. III Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang digelar di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Mengusung tema “Membangun Sinergi Vokasi, Industri, dan Inovasi untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional”, forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi vokasi, pelaku industri energi, hingga para praktisi dalam satu ruang dialog yang membahas arah pengembangan sektor energi Indonesia di masa depan.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 Politeknik Negeri Jakarta itu dibuka oleh Direktur PNJ Syamsurizal, kemudian dilanjutkan opening speech oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. Eddy Soeparno.
Sebagai simbol dimulainya sarasehan, dilakukan pemukulan gong bersama yang melibatkan Mohammad Kemal, Executive Advisor to Chairman SKK Migas, serta Eko Putro Sandjojo, Komisaris Independen PT Gunanusa Eramandiri Tbk sekaligus alumni PNJ Angkatan 1983.
Ketahanan Energi Dimulai dari SDM
Meski Kepala SKK Migas Dr. Ir. Djoko Siswanto, M.B.A. berhalangan hadir karena menghadiri rapat bersama DPR RI, pandangan strategisnya mengenai pengembangan sektor energi tetap disampaikan melalui Mohammad Kemal.
Selanjutnya, diskusi menghadirkan berbagai perspektif dari para narasumber, yakni Prof. Tirta N. Mursitama selaku Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian ESDM, Ali Sahid dari PT Sorik Marapi Geothermal Power, Henny Trisnadewi dari PT Badak LNG, serta Alloysius Joko Purwanto, Senior Energy Economist ERIA.
Berbagai isu strategis mengemuka, mulai dari kebijakan energi nasional, pengembangan panas bumi, industri LNG, keselamatan kerja, investasi, hingga kebutuhan sumber daya manusia yang mampu menjawab transformasi sektor energi.
Namun satu pesan yang terus menguat sepanjang forum adalah bahwa pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan talenta yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri.

Link and Match Bukan Sekadar Slogan
Dalam forum tersebut, penguatan hubungan antara kampus vokasi dan dunia industri menjadi salah satu perhatian utama.
Kolaborasi dinilai perlu diperkuat melalui penyelarasan kurikulum, program magang (apprenticeship), sertifikasi kompetensi, riset terapan, hingga keterlibatan industri dalam memetakan kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap bekerja dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi sektor energi yang semakin dinamis.
Melalui sinergi tersebut, perguruan tinggi vokasi diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem energi nasional yang lebih tangguh.
Dari Forum Diskusi Menjadi Kolaborasi Nyata
Sarasehan tidak berhenti pada penyampaian gagasan para narasumber. Peserta juga memperoleh kesempatan berdialog langsung melalui sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif.
Berbagai masukan yang muncul memperlihatkan besarnya harapan agar sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri tidak berhenti sebagai wacana, melainkan berkembang menjadi kerja sama yang lebih konkret.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui closing speech oleh Eko Putro Sandjojo yang kembali menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional.
Semangat tersebut dirangkum melalui slogan “Satu Sinergi, Sejuta Energi”, yang menggambarkan keyakinan bahwa keberhasilan membangun ketahanan energi Indonesia hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama berbagai pihak.
Sarasehan Vol. III terselenggara atas inisiatif Politeknik Negeri Jakarta, Bicaraplus.id, dan PT Produksi Anak Bangsa, dengan dukungan berbagai mitra industri, di antaranya Bank Mandiri, ORKA, Sorik Marapi Geothermal, Badak LNG, EIGER Adventure, dan PGN MAS. Kegiatan ini juga didukung sejumlah media partner, termasuk Navaswara.com dan TVRI, serta GardaPAN sebagai organization partner.
