Indonesia Punya Modal Besar, Menko PMK Ajak Bangun Industri Obat Berbasis Kekayaan Hayati Nasional

Navaswara.com – Kemandirian sektor kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau besarnya investasi, tetapi juga kemampuan sebuah negara mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Bagi Indonesia, modal tersebut sesungguhnya telah tersedia dalam bentuk kekayaan hayati yang melimpah, mulai dari tanaman obat, biodiversitas tropis, hingga sumber daya alam yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai fondasi industri farmasi nasional.

Potensi inilah yang kembali ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam Forum Menenun Kebijakan mengenai diseminasi dan konsultasi analisis kebijakan obat dan makanan yang digelar di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Di hadapan para pemangku kepentingan sektor kesehatan, Pratikno mengajak seluruh pihak memperkuat langkah menuju kemandirian industri obat nasional melalui sinergi riset, inovasi, dan pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia secara berkelanjutan.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh selamanya bergantung pada produk maupun bahan baku impor. Kekayaan biodiversitas yang dimiliki merupakan keunggulan kompetitif yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan industri kesehatan sekaligus memperkuat ketahanan nasional menghadapi berbagai tantangan global.

“Indonesia mempunyai kekayaan hayati yang luar biasa, dan ini adalah modal yang sangat penting agar industri kita bisa mandiri,” ujar Pratikno.

Pernyataan tersebut mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang ingin menjadikan sektor kesehatan sebagai salah satu pilar strategis pembangunan nasional. Terlebih, pengalaman menghadapi pandemi beberapa tahun lalu memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan memproduksi obat, vaksin, maupun produk kesehatan secara mandiri merupakan bagian dari kedaulatan bangsa.

Namun demikian, kekayaan sumber daya alam saja belum cukup. Menko PMK menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, riset, serta pengembangan bioteknologi agar potensi hayati Indonesia mampu diolah menjadi produk kesehatan yang memiliki daya saing tinggi di pasar global.

Transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku industri farmasi, hingga dunia usaha. Melalui kerja sama tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan mampu dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Pratikno juga memberikan apresiasi terhadap peran BPOM sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan, mutu, dan khasiat obat maupun makanan yang beredar di Indonesia. Menurutnya, keberadaan sistem pengawasan yang kredibel menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing industri farmasi nasional.

Seiring berkembangnya teknologi digital, tantangan di sektor kesehatan pun semakin kompleks. Informasi mengenai obat, suplemen, hingga produk pangan kini beredar sangat cepat melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuka peluang masyarakat memperoleh informasi lebih luas, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko penyebaran informasi yang tidak akurat.

Karena itu, Menko PMK mengingatkan pentingnya memperkuat literasi kesehatan masyarakat agar mampu memilih informasi yang benar serta menggunakan produk kesehatan secara bijak.

“Peningkatan edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting agar bukan hanya usia harapan hidup yang meningkat, tetapi juga kualitas hidup sehat dan aktif masyarakat Indonesia,” katanya.

Forum tersebut menjadi ruang diskusi antara pemerintah, akademisi, praktisi, serta pelaku industri untuk merumuskan berbagai rekomendasi kebijakan di bidang obat dan makanan. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi, Gubernur Universitas Republik Indonesia Donny Ermawan Taufanto, serta perwakilan berbagai kementerian, lembaga, akademisi, dan praktisi kebijakan.

Melalui forum ini, pemerintah berharap lahir berbagai strategi yang mampu memperkuat ekosistem industri farmasi nasional, mempercepat hilirisasi hasil riset, meningkatkan kualitas pengawasan produk kesehatan, serta memperluas pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber inovasi.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan industri kesehatan berbasis biodiversitas. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, riset yang kuat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, cita-cita mewujudkan industri obat nasional yang mandiri bukan lagi sekadar visi, melainkan langkah nyata menuju ketahanan kesehatan dan daya saing bangsa.