Biaya Pendidikan Anak Terus Naik, Lima Fakta Ini Patut Jadi Perhatian Orang Tua

Navaswara.com — Menyekolahkan anak menjadi salah satu prioritas terbesar bagi banyak keluarga di Indonesia. Namun, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar memilih sekolah, melainkan menyiapkan biaya yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Berbagai data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga survei nasional menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang belum memiliki perencanaan dana pendidikan yang memadai. Pada saat yang sama, kenaikan biaya pendidikan berlangsung lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan sebagian masyarakat. Berikut lima fakta yang dapat menjadi bahan pertimbangan.

Banyak Orang Tua Belum Memiliki Dana Pendidikan Khusus

Survei Populix pada Oktober 2024 menunjukkan 45,7 persen responden mengaku belum menyiapkan dana pendidikan untuk anak. Sementara itu, responden yang sudah memiliki persiapan baru mencapai 24,1 persen.

Di sisi lain, sebanyak 94,4 persen responden menganggap menyiapkan dana pendidikan sejak dini merupakan hal yang penting. Artinya, masih terdapat jarak antara kesadaran akan pentingnya perencanaan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Survei yang sama juga menemukan bahwa mayoritas orang tua yang telah menabung masih mengandalkan tabungan konvensional sebagai tempat menyimpan dana pendidikan.

Dalam psikologi perilaku, kondisi ini dikenal sebagai intention-behavior gap, yaitu ketika seseorang telah memiliki niat yang baik, tetapi belum berhasil mengubahnya menjadi tindakan nyata. Kondisi tersebut umum terjadi pada tujuan jangka panjang yang manfaatnya belum dirasakan dalam waktu dekat.

Kenaikan Biaya Pendidikan Terjadi Sejak Jenjang Awal Sekolah

Banyak orang menganggap biaya pendidikan baru terasa berat ketika anak memasuki perguruan tinggi. Padahal, data BPS menunjukkan kenaikan biaya sudah mulai terasa sejak jenjang pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar.

Pada April 2025, inflasi tahunan kelompok pendidikan tercatat sebesar 1,88 persen. Subkelompok pendidikan dasar dan anak usia dini justru mengalami kenaikan tertinggi, yakni 2,74 persen.

Tren tersebut berlanjut pada Juli 2025. Inflasi tahunan kelompok pendidikan meningkat menjadi 1,95 persen, sedangkan subkelompok PAUD hingga SD mencapai 3,12 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding inflasi pendidikan tinggi yang berada di level 1,35 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa orang tua perlu mulai merencanakan dana pendidikan sejak anak masih kecil. Menunda persiapan dapat membuat beban biaya semakin besar ketika anak memasuki usia sekolah.

Kenaikan Biaya Sekolah Sebenarnya Terjadi Secara Rutin

Lonjakan biaya pendidikan hampir selalu muncul menjelang tahun ajaran baru. BPS mencatat pada Juli 2025 kelompok pendidikan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,82 persen.

Kenaikan terjadi pada berbagai jenjang, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga lembaga bimbingan belajar. Menurut BPS, pola tersebut lazim terjadi setiap tahun karena berkaitan dengan penerimaan peserta didik baru, penyesuaian uang kuliah tunggal (UKT), maupun biaya operasional sekolah.

Meski berlangsung secara berulang, banyak keluarga tetap menganggap pengeluaran tersebut sebagai biaya yang datang secara mendadak.

Psikologi mengenal kondisi ini sebagai mental accounting, yaitu kecenderungan seseorang memisahkan pengeluaran ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Akibatnya, biaya pendidikan yang sebenarnya dapat dipersiapkan sepanjang tahun terasa seperti beban besar ketika waktu pembayaran tiba.

Biaya Pendidikan Bertambah Lebih Cepat Dibanding Pendapatan

Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas berdasarkan data BPS periode 2018–2024 menunjukkan rata-rata biaya sekolah dasar meningkat sekitar 12,6 persen setiap tahun.

Sebagai perbandingan, rata-rata kenaikan gaji buruh, karyawan, maupun pegawai dalam periode yang sama hanya sekitar 2,6 persen per tahun.

Biaya sekolah dasar yang pada 2018 berada di kisaran Rp2,4 juta meningkat menjadi sekitar Rp4,6 juta pada 2024. Sementara rata-rata pendapatan bulanan pekerja naik jauh lebih lambat.

Kesenjangan tersebut bahkan lebih besar pada sekolah swasta. Beberapa komponen pengeluaran, seperti transportasi, uang sekolah, hingga kegiatan edukatif mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam ilmu perilaku, fenomena ini berkaitan dengan present bias, yaitu kecenderungan manusia lebih memprioritaskan kebutuhan saat ini dibanding kebutuhan di masa mendatang. Padahal, kebutuhan yang ditunda justru berpotensi menjadi jauh lebih mahal akibat inflasi.

Literasi Keuangan Meningkat, tetapi Perencanaan Dana Pendidikan Masih Perlu Diperkuat

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia meningkat menjadi 66,46 persen. Indeks inklusi keuangan juga naik menjadi 80,51 persen.

Meski demikian, pemahaman masyarakat terhadap produk perlindungan keuangan masih relatif rendah. Pada sektor perasuransian, indeks literasi tercatat sebesar 45,45 persen, sedangkan indeks inklusinya hanya 28,50 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami pengelolaan keuangan sehari-hari. Namun, perencanaan kebutuhan jangka panjang, termasuk pendidikan anak, masih memerlukan perhatian lebih.

Sebagian ahli perilaku menjelaskan kondisi ini melalui konsep avoidance coping. Ketika membahas biaya pendidikan memunculkan rasa cemas atau khawatir terhadap kemampuan finansial, sebagian orang justru memilih menghindari topik tersebut daripada mulai menyusun rencana.

Pada akhirnya, menyiapkan dana pendidikan bukan semata soal besarnya nominal yang tersedia saat ini, melainkan soal membangun kebiasaan merencanakan sejak dini. Biaya pendidikan memang terus meningkat, tetapi persiapan yang dimulai lebih awal dapat membantu mengurangi tekanan finansial ketika anak memasuki setiap jenjang sekolah. Dengan perencanaan yang konsisten, keluarga memiliki peluang lebih besar menghadapi kenaikan biaya pendidikan tanpa harus mengorbankan kondisi keuangan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *