BRIN Kembangkan Pabrik Percontohan Karbon Aktif dari Batu Bara, Kapasitas 1 Ton per Hari

Navaswara.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mencari cara meningkatkan nilai tambah batu bara di dalam negeri. Salah satu yang tengah dikembangkan adalah pabrik percontohan (pilot plant) produksi karbon aktif berbasis batu bara dengan kapasitas 1 ton per hari.

Karbon aktif merupakan material yang banyak digunakan dalam berbagai industri, mulai dari pengolahan air bersih, makanan dan minuman, farmasi, hingga pemurnian gas. Saat ini, kebutuhan karbon aktif berkualitas tinggi di Indonesia masih banyak dipenuhi melalui impor.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN Ika Monika mengatakan, pengembangan teknologi ini memanfaatkan batu bara peringkat rendah yang cadangannya melimpah di Indonesia.

Menurut dia, batu bara tersebut dapat diolah menjadi karbon aktif berkualitas tinggi yang memenuhi standar industri melalui rekayasa proses termal yang presisi.

“Melimpahnya cadangan batu bara nonbahan bakar menjadi peluang strategis, sehingga penguasaan teknologi produksi skala pilot satu ton per hari dapat mendorong komersialisasi, meningkatkan nilai tambah mineral dalam negeri, serta menjadi langkah substitusi impor,” ujar Ika dalam webinar Diseminasi Seri ke-9, belum lama ini.

Ika menjelaskan, proses produksi karbon aktif dilakukan melalui dua tahap utama, yakni karbonisasi atau pirolisis dan aktivasi secara fisik maupun kimia.

Pada skala produksi 1 ton per hari, keberhasilan konversi batu bara menjadi karbon aktif sangat bergantung pada pengendalian parameter operasi.

“Pengendalian temperatur, waktu tinggal bahan di dalam reaktor, serta laju alir agen pengaktif merupakan tiga pilar utama yang harus dipantau secara ketat. Deviasi kecil pada parameter operasi dapat menurunkan kinerja daya serap atau memicu kerusakan struktur karbon,” jelasnya.

BRIN menyebut hasil pengujian pada skala pilot menunjukkan karbon aktif berbahan baku batu bara memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produk impor.

Hal itu terlihat dari luas permukaan spesifik berdasarkan analisis Brunauer-Emmett-Teller (BET) yang sesuai standar industri. Selain itu, angka iodin yang dihasilkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), serta memiliki kadar abu yang rendah sehingga tidak mencemari media adsorbat.

Ke depan, BRIN berharap keberhasilan pemodelan operasi berkapasitas 1 ton per hari ini dapat segera diimplementasikan melalui kemitraan dengan industri pertambangan batu bara dan manufaktur kimia nasional.

Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat hilirisasi batu bara nonbahan bakar sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk karbon aktif impor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *