Navaswara.com — Wisata ramah Muslim terus berkembang seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital dalam merencanakan perjalanan. Perkembangan ini turut mengangkat posisi Indonesia di kancah global. Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index 2026 yang diterbitkan Mastercard bersama CrescentRating, Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia, sejajar dengan Turkiye dan Arab Saudi, sebagai destinasi wisata halal terbaik.
Menariknya kecerdasan buatan kini menjadi andalan utama pelancong Muslim sebelum bepergian. Laporan terbaru mencatat sekitar delapan puluh persen wisatawan aktif memanfaatkan alat pintar tersebut guna merencanakan liburan mereka. Pergeseran besar ini mengubah cara lama pencarian informasi manual menuju pengambilan keputusan praktis agar layanan ramah Muslim semakin mudah ditemukan secara daring.
Pemerintah Indonesia merespons cepat tren teknologi ini dengan meluncurkan asisten pintar MaiA lewat situs pariwisata nasional. Selain inovasi tersebut, ada pula prestasi membanggakan yang diukir provinsi Jawa Barat. Wilayah ini sukses meraih penghargaan bergengsi sebagai kawasan wisata ramah Muslim paling menjanjikan pada kategori kawasan negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam.
Aisha Islam dari Mastercard menjelaskan perubahan tren ini. Ia menuturkan, “Perjalanan wisata Muslim kini mengalami pergeseran yang ditopang oleh kepercayaan digital, kemudahan akses, serta kebutuhan akan kepastian yang lebih besar di setiap tahap perjalanan.” Menurutnya integrasi teknologi cerdas membuka peluang besar Asia Tenggara guna memperkuat posisinya sebagai kawasan yang inklusif.
Sementara itu kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian ikut memengaruhi perilaku pelancong saat menyusun rencana. Kenaikan tarif transportasi hingga isu keamanan global membuat wisatawan kini lebih memilih destinasi liburan jarak dekat. Tren mobilitas satu benua tersebut menjadi pilihan utama karena dinilai menawarkan stabilitas tinggi serta rasa aman yang sangat optimal.
Situasi tersebut menempatkan wilayah Asia Tenggara sebagai koridor operasional paling strategis bagi pasar wisata halal. Faktor kedekatan geografis pasar utama dan ketersediaan penerbangan luas dipadukan bersama ekosistem kuliner terpadu menjadi daya tarik. Destinasi regional kini berpeluang besar memikat banyak turis dengan terus mengoptimalkan seluruh infrastruktur digital mereka secara lebih berkala.
Fazal Bahardeen selaku pimpinan CrescentRating menambahkan pandangannya mengenai pergeseran perilaku turis ini. “Wisatawan modern menginginkan kepastian sebelum berangkat dan makin banyak di antara mereka yang menyerahkan proses verifikasi itu kepada sistem cerdas,” ungkap Fazal. Hal tersebut menuntut perubahan struktural destinasi wisata dari pasif menjadi sangat lincah dan juga berorientasi digital.
Melihat peta persaingan wisata internasional ternyata Malaysia masih kokoh berada pada peringkat pertama destinasi ramah Muslim terbaik. Sementara itu untuk kategori negara non-Islam posisi puncak dipegang oleh Singapura. Kehadiran ragam teknologi mutakhir seperti visa elektronik terbukti sangat efektif guna mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata halal kawasan Asia pada era modern ini.
Kini standar kenyamanan liburan ramah Muslim tidak lagi sebatas ketersediaan makanan halal saja. Lebih jauh lagi aspek kemudahan akses informasi pintar telah menjadi penentu utama persaingan. Destinasi yang mampu menyajikan data akurat serta transparan di internet tentu akan terus menjadi pilihan prioritas favorit bagi seluruh pelancong Muslim dari generasi modern.
