Biaya Hidup Kian Mencekik, 80 Persen Warga Pusing Atur Keuangan

Survei Sun Life: Masyarakat Indonesia Sulit Maju Gara-gara Biaya Hidup

Navaswara.com — Tekanan ekonomi akibat kenaikan harga barang kian dirasakan oleh keluarga di Indonesia. Kondisi ini memaksa para ibu memutar otak lebih keras dalam menyusun prioritas belanja. Sebanyak 80 persen masyarakat menghadapi tantangan kenaikan biaya hidup yang memengaruhi alokasi pengeluaran bulanan secara signifikan.

Data tersebut merujuk pada laporan Sun Life Financial Resilience Index 2026 yang dirilis di Jakarta. Bagi sebagian besar orang, lonjakan harga kebutuhan harian menjadi tembok besar yang menghambat impian untuk memperbaiki taraf hidup dan merencanakan masa depan keuangan keluarga.

Sebanyak 30 persen masyarakat Indonesia menilai kenaikan biaya hidup sebagai hambatan terbesar untuk memperbaiki kondisi keuangan mereka saat ini.

Pengeluaran pokok kini menjadi pemicu utama himpitan keuangan rumah tangga di Indonesia. Sebanyak 91% masyarakat terdampak kenaikan harga bahan pangan, 88% terbebani tagihan utilitas, dan 87% merasakan tekanan biaya kesehatan. Lonjakan harga makanan dan bahan pangan bahkan dikeluhkan oleh 59% responden sebagai beban kenaikan tertinggi, disusul transportasi sebesar 45% dan utilitas 40%.

Akibat tekanan tersebut, perhatian keluarga cenderung bergeser hanya pada pemenuhan berbagai kebutuhan mendesak untuk jangka pendek.

Imbasnya sangat terasa pada tingkat perencanaan masa depan. Sebanyak 48 persen responden mengaku belum memiliki rencana keuangan jangka panjang. Banyak dari mereka yang hanya mampu merencanakan keuangan keluarga hingga satu tahun ke depan demi sekadar bertahan hidup.

Meskipun situasinya cukup menantang, riset ini membawa kabar baik mengenai kedewasaan finansial. Proporsi masyarakat dengan ketahanan finansial yang kuat meningkat dari 30 persen menjadi 34 persen. Hal ini merupakan sebuah tren yang menunjukkan arah positif bagi masyarakat.

Saat ini sebanyak 45 persen masyarakat Indonesia menyatakan mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa penghasilan jika terjadi situasi darurat. Namun angka psikologis ini tetap menyimpan kecemasan mengingat hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial.

President Director Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menjelaskan bahwa temuan ini mencerminkan dinamika masyarakat dalam menyeimbangkan kebutuhan domestik harian dengan proteksi masa depan. Kesiapan finansial dinilai menjadi modal utama untuk membangun ketahanan keluarga secara menyeluruh.

“Di sinilah peran mitra keuangan yang dapat dipercaya menjadi semakin penting untuk memberikan rasa tenang dalam menghadapi ketidakpastian saat ini sekaligus membantu merencanakan masa depan,” ucap Albertus. Kehadiran mitra dipercaya mampu merancang navigasi anggaran secara lebih aman.

Kunci utama untuk keluar dari jerat kecemasan ekonomi ini adalah tingkat literasi keuangan yang baik. Individu yang melek finansial terbukti tiga kali lebih tangguh secara finansial dalam menghadapi krisis dibandingkan mereka yang kurang teredukasi.

Kelompok melek finansial ini memiliki tingkat kepercayaan diri 53 poin lebih tinggi serta 47 poin lebih optimistis terhadap masa depan mereka. Mereka jauh lebih siap mengevaluasi pilihan pengeluaran tanpa harus mengorbankan tabungan darurat untuk masa depan.

Menariknya kini masyarakat beralih ke ranah digital untuk mencari solusi cerdas. Sebanyak 68 persen masyarakat Indonesia memanfaatkan teknologi generative AI untuk mendapatkan panduan keuangan dan mengatur anggaran bulanan mereka secara praktis setiap hari.

Catatan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi teknologi AI tertinggi di Asia dalam pengelolaan uang. Teknologi ini sangat membantu masyarakat belajar membuat simulasi anggaran dengan lebih cepat dan melengkapi peran penasihat profesional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *