Saat Para Tokoh Nasional “Pulang” ke Trowulan: Dari Spirit Gajah Mada hingga Amanah Budaya untuk Indonesia

Navaswara.com – Ada yang berbeda di Trowulan pada malam itu. Bukan hanya suara gamelan yang menggema dari Pendopo Agung, bukan pula keramaian masyarakat yang memadati area pagelaran wayang kulit. Di balik semua itu, ada suasana yang terasa lebih dalam: sebuah upaya menghidupkan kembali ingatan tentang jati diri bangsa.

Di kawasan yang dipercaya sebagai pusat kejayaan Majapahit tersebut, Padepokan Kosgoro 57 menghadirkan pagelaran wayang kulit bertajuk Parikesit Jumeneng Ratu. Lakon ini dipilih bukan tanpa alasan. Kisah Parikesit berbicara tentang kepemimpinan, amanah, dan kesinambungan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tema itu terasa relevan dengan situasi Indonesia hari ini, ketika modernitas bergerak cepat sementara masyarakat perlahan mulai menjauh dari akar budayanya sendiri.

Momentum budaya tersebut sekaligus menjadi ruang lahirnya kolaborasi penting. Padepokan Kosgoro 57 menjalin kerja sama penguatan budaya dengan Padepokan Giri Kedaton Nusantara yang dipimpin Ki Semar Romo Bayu Suryoadiwinata.

Kehadiran Ki Semar malam itu menarik perhatian tersendiri. Selain sebagai pimpinan padepokan budaya, ia juga hadir sebagai utusan Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan tersebut.

Kolaborasi ini bukan sekadar seremoni antarkomunitas budaya. Ada pesan besar yang ingin dibangun: budaya harus kembali menjadi fondasi pembentukan karakter bangsa.

“Budaya adalah jati diri bangsa. Melalui kolaborasi seperti ini, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memastikan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah generasi masa kini,” ujar Ki Semar Romo Bayu Suryoadiwinata.

Pernyataan itu terasa penting di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Ketika ruang digital sering dipenuhi polarisasi dan masyarakat semakin mudah terpecah, budaya justru menawarkan ruang perjumpaan yang lebih teduh dan membumi.

Karena sejatinya budaya bukan hanya tentang kesenian, tetapi tentang cara bangsa ini memahami dirinya sendiri.

Kerja sama yang dibangun kedua padepokan meliputi penyelenggaraan pagelaran budaya berkala, pendidikan seni tradisi bagi generasi muda, pertukaran pelaku budaya, hingga kegiatan sosial berbasis kearifan lokal.

Di titik ini, budaya tidak lagi ditempatkan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan energi sosial yang hidup dan terus bergerak.

Menariknya, rangkaian acara malam itu telah dimulai sejak siang hari melalui prosesi yang penuh makna.

Menjelang penganugerahan gelar kehormatan “Ki”, Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat bersama rombongan melakukan ziarah ke petilasan Eyang Gajah Mada di kawasan Makam Panggung, Trowulan.

Di lokasi yang diyakini sebagai tempat pertapaan Mahapatih Gajah Mada sebelum mengikrarkan Sumpah Palapa itu, doa dipanjatkan dalam suasana khidmat.

Bagi Arsjad Rasjid, ziarah tersebut bukan sekadar ritual budaya.

“Ziarah ini bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi pengingat bagi kami untuk terus meneladani semangat persatuan dan pengabdian yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.

Apa yang dilakukan di Trowulan seolah mengingatkan kembali bahwa bangsa besar tidak pernah lahir hanya dari kekuatan ekonomi atau teknologi. Bangsa besar lahir dari kemampuannya menjaga nilai, sejarah, dan identitasnya.

Malam harinya, suasana Pendopo Agung semakin semarak ketika Padepokan Kosgoro 57 menganugerahkan gelar kehormatan “Ki” kepada tujuh tokoh nasional yang dinilai memiliki kontribusi nyata di bidang pendidikan, budaya, sosial, dan pengabdian masyarakat.

Selain Arsjad Rasjid, penghargaan tersebut diberikan kepada Fanshurullah Asa, Mukhtar Tompo, Izhari Mawardi, Adik Dwi Putranto, Muhammad Nabil, dan Lutfil Hakim.

Prosesi berlangsung khidmat. Sertifikat kehormatan diserahkan langsung oleh Muchdi Purwoprandjono bersama M. Ridwan Hisjam, sementara selendang kehormatan dikenakan oleh La Nyalla Mattalitti.

Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah penyerahan simbol wayang tokoh Parikesit dari Arsjad Rasjid kepada M. Ridwan Hisjam sebagai simbol estafet nilai kepemimpinan dan pelestarian budaya.

“Gelar ‘Ki’ ini bukan sekadar simbol, tetapi amanah budaya dan tanggung jawab moral untuk terus menjaga nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Ridwan Hisjam.

Sementara Arsjad Rasjid menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi pengingat untuk terus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Di tengah riuh modernitas, Trowulan malam itu seperti memberi pelajaran sederhana namun penting: bahwa bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi atau menciptakan teknologi canggih, tetapi bangsa yang tetap mengenali akar budayanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *