Navaswara.com – Upaya menjadikan jalur rempah sebagai wajah Indonesia di panggung dunia kembali diperkuat. Pemerintah melihat, cerita tentang rempah bukan sekadar soal komoditas, tapi tentang sejarah panjang, identitas, dan cara Indonesia berinteraksi dengan dunia sejak berabad-abad lalu.
Hal ini mengemuka dalam rapat koordinasi lintas kementerian yang dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK, Warsito, di Jakarta, Selasa (28/4). Fokus utamanya jelas: mempercepat dan merapikan langkah penominasian jalur rempah ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Warsito menekankan bahwa kekuatan jalur rempah justru ada pada ceritanya. Bukan hanya apa yang diperdagangkan, tetapi juga bagaimana jalur itu membentuk peradaban, mempertemukan budaya, dan menjadikan Nusantara sebagai ruang interaksi global.
Menurutnya, kalau hanya berhenti di romantisme sejarah, dampaknya akan terbatas. Karena itu, pemerintah juga mendorong agar ekosistem rempah hidup dari hulu ke hilir. Mulai dari petani, proses budidaya, industri pengolahan, sampai ekspor. Tujuannya sederhana, ada manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengaitkan jalur rempah dengan agenda besar riset dan hilirisasi. Di sini peran Badan Riset dan Inovasi Nasional dan kampus-kampus jadi krusial, agar pengembangan rempah tidak berjalan sendiri-sendiri, tapi berbasis pengetahuan dan inovasi.
Dari sisi diplomasi, pandangan serupa datang dari Hassan Wirajuda. Ia melihat jalur rempah sebagai bukti bahwa sejak dulu Indonesia bukan sekadar jalur lewat, tapi pusat aktivitas ekonomi dan budaya. Pada masa Sriwijaya, misalnya, Nusantara sudah menjadi simpul penting perdagangan dunia.
Narasi ini, menurutnya, penting untuk dibawa ke tingkat global. Bukan hanya untuk kebanggaan sejarah, tetapi juga sebagai modal diplomasi budaya Indonesia hari ini.
Sementara itu, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta, mengingatkan agar konsep jalur rempah tidak dipersempit. Jalur ini bukan hanya rute perdagangan, tapi jaringan besar yang menghubungkan pedalaman, sungai, pelabuhan, hingga lintas samudra. Ada dimensi budaya, ekonomi, dan sejarah yang menyatu di dalamnya.
Dalam perjalanannya, inisiatif ini juga sudah lama tumbuh di masyarakat. Yayasan Negeri Rempah mencatat gerakan ini sudah berjalan sejak 2014 dan bahkan telah menjangkau sedikitnya 15 negara yang punya keterkaitan sejarah dengan jalur rempah.
Meski begitu, proses menuju pengakuan dunia tidak selalu mulus. Ada perubahan dalam dokumen usulan ke UNESCO, mulai dari nama, cakupan wilayah, hingga periode sejarah yang bergeser ke era kolonial. Perubahan ini dinilai berisiko mengaburkan narasi besar jalur rempah sebagai peradaban maritim Nusantara.
Karena itu, pemerintah mendorong semua pihak untuk kembali duduk bersama, menyelaraskan visi. Harapannya sederhana tapi penting: jalur rempah tidak hanya diakui sebagai warisan dunia, tapi juga benar-benar hidup sebagai alat diplomasi budaya Indonesia, yang kuat secara cerita dan nyata dampaknya bagi masyarakat.
