BRIN Hadirkan Teknologi Kereta Terintegrasi, Perkuat Mobilitas Nasional

Navaswara.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan berbagai teknologi perkeretaapian yang mencakup aspek sarana, prasarana, hingga tata kelola guna mendukung peningkatan kinerja transportasi dan pertumbuhan kawasan.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui riset terintegrasi untuk menjawab kebutuhan sistem perkeretaapian nasional yang semakin kompleks.

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan, riset yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mencakup dimensi sosial, kelembagaan, dan operasional.

“Paling tidak ada tiga fokus riset, yaitu aspek sosial kelembagaan, riset penumpang, dan aspek lingkungan,” ujar Arif dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Jaringan Kereta Api Nasional di Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta, Rabu (22/4).

Dalam pengembangan sarana, BRIN mendorong peningkatan kemampuan rekayasa (engineering) nasional, baik pada mesin maupun gerbong kereta, guna mempercepat proses alih teknologi.

Menurut Arif, penguatan kapasitas engineering menjadi kunci dalam meningkatkan kemandirian industri perkeretaapian nasional.

“Percepatan penguasaan teknologi sangat ditentukan oleh investasi pada kemampuan engineering,” katanya.

Sementara itu, pada aspek prasarana, BRIN mengembangkan sistem pemantauan kesehatan struktur (structural health monitoring system) untuk jembatan kereta api. Teknologi ini dinilai penting mengingat banyaknya jembatan yang telah berusia tua.

“Data menunjukkan sekitar 6.000 jembatan kereta api memiliki usia lebih dari 100 tahun,” ungkapnya.

Selain itu, BRIN juga mengembangkan inovasi material seperti bantalan rel berbasis karet yang telah melalui berbagai pengujian teknis untuk meningkatkan stabilitas dan keselamatan operasional.

Dari sisi tata kelola, BRIN melakukan kajian terkait manajemen dan integrasi sistem transportasi, termasuk di kawasan perkotaan. Peran ini memperkuat posisi BRIN sebagai lembaga riset yang mendukung pemerintah, BUMN, dan industri dalam percepatan pembangunan sektor perkeretaapian.

“Ini dapat menjadi salah satu pendorong percepatan pembangunan infrastruktur dan industri kereta api nasional,” kata Arif.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan bahwa pengembangan jaringan perkeretaapian saat ini difokuskan di luar Pulau Jawa.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).

“Kita ingin memastikan wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi tidak tertinggal. Dengan jaringan kereta api terintegrasi, biaya logistik dapat ditekan dan daya saing meningkat,” pungkas AHY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *