Ledakan Ikan Sapu-sapu di Jakarta, Ahli Ungkap Cara Paling Efektif Mengatasinya

Navaswara.com – Rencana Pemprov DKI Jakarta memberantas ikan sapu-sapu dengan memperluas operasi penangkapan dinilai belum cukup efektif. Populasi ikan ini disebut sudah meledak dan mengancam ekosistem sungai serta ikan lokal.

Ahli Ikan dan Konservasi dari IPB Charles P. H. Simanjuntak mengatakan, penangkapan massal saja tidak cukup untuk menekan populasi ikan sapu-sapu.

Ikan sapu-sapu atau Amazon sailfin catfish merupakan spesies invasif yang berkembang sangat cepat.

“Ikan sapu-sapu termasuk ‘a breeding machine’ karena memiliki jumlah telur yang sangat tinggi, bisa mencapai 19 ribu per induk betina,” kata Charles.

Ia menjelaskan, ikan ini mampu berkembang biak beberapa kali dalam setahun, bahkan sejak ukuran masih kecil. Selain itu, tingkat keberhasilan hidupnya juga tinggi karena telur dijaga oleh induk jantan hingga menetas.

Menurut Charles, tidak adanya predator alami di sungai-sungai Jakarta, seperti di Sungai Ciliwung, membuat ikan ini semakin sulit dikendalikan.

Di habitat aslinya di Sungai Amazon, ikan ini memiliki sejumlah predator alami seperti ikan Common snook, Tarpon, buaya Spectacled caiman, hingga burung Neotropic cormorant.

“Tidak adanya predator spesifik dan efektif di ekosistem non-asli adalah alasan utama ikan ini menjadi invasif dan sulit dikendalikan,” ujarnya.

Charles menekankan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan dengan pendekatan terpadu, tidak hanya penangkapan.

“Diperlukan kombinasi pencegahan, penyingkiran fisik, dan kontrol biologis,” jelasnya.

Dari sisi pencegahan, pemerintah perlu memperketat aturan perdagangan ikan hias serta meningkatkan edukasi masyarakat agar tidak melepas ikan ke perairan alami.

Selain itu, teknologi pemantauan seperti eDNA juga dinilai penting untuk mendeteksi penyebaran sejak dini.

Sementara untuk populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap perlu dilakukan, tetapi lebih terarah.

“Penangkapan sebaiknya difokuskan pada ikan berukuran kecil, di bawah 30 cm, karena bisa menekan populasi lebih efektif,” kata dia.

Libatkan Warga hingga Predator Alami

Ia juga mendorong pelibatan masyarakat dalam pengendalian populasi, seperti melalui penangkapan berbasis komunitas di sepanjang aliran sungai.

Namun, ikan yang sudah ditangkap sebaiknya dimusnahkan agar tidak kembali berkembang biak.

Dari sisi biologis, pemanfaatan predator lokal, seperti ikan Baung dan Betutu bisa membantu, meski hanya efektif untuk ikan sapu-sapu berukuran kecil.

Charles juga membuka opsi pemanfaatan ikan sapu-sapu, tetapi tidak untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar.

“Ikan ini berpotensi mengandung logam berat, jadi tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” pungkasnya.