Navaswara.com – Tahu gejrot jadi salah satu jajanan kaki lima khas Cirebon yang tak pernah kehilangan penggemar. Sepintas terlihat sederhana, hanya potongan tahu goreng dengan siraman kuah, tapi perpaduan rasa asam, manis, dan pedasnya selalu berhasil bikin lidah “kaget” dan nagih.
Di balik rasanya yang khas itu, tahu gejrot ternyata punya cerita panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Konon, jejak tahu gejrot bermula dari masyarakat keturunan Tionghoa yang menetap di wilayah Ciledug, Kabupaten Cirebon. Mereka tinggal di sekitar aliran Sungai Cisanggarung untuk memudahkan aktivitas perdagangan, terutama menggunakan jalur air.
Dari sanalah tahu mulai diolah dan dijual sebagai makanan sederhana untuk para buruh dan pekerja. Penyajiannya pun khas sejak dulu, menggunakan piring tanah liat kecil yang hingga kini masih jadi ciri identitasnya.
Seiring waktu, tahu gejrot makin dikenal luas dan melebur dalam kehidupan masyarakat Cirebon. Bahkan, kuliner ini sempat menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa, termasuk digunakan dalam prosesi ritual di klenteng sebagai bentuk persembahan.
Nama “tahu gejrot” sendiri juga punya cerita unik. Banyak yang percaya istilah ini berasal dari bunyi “jrot-jrot” saat kuah gula merah dituangkan ke atas tahu. Ada juga yang menyebutnya dari sensasi pedasnya yang terasa “ngegejrot” di lidah.
Legenda dari Pasar Kanoman
Kalau bicara tahu gejrot di Cirebon, nama Mang Wardi jadi salah satu yang paling sering disebut.
Berlokasi di kawasan Pasar Kanoman, tempat ini nyaris tak pernah sepi pembeli. Suasana pasar yang ramai justru jadi bagian dari pengalaman menikmati sepiring tahu gejrot di sini.
Mang Wardi mulai berjualan sejak 2007 dengan pikulan sederhana. Dari situ, usahanya berkembang pelan tapi pasti hingga dikenal luas sebagai salah satu tahu gejrot legendaris di Cirebon.
Ciri khas racikannya terletak pada tahu yang lembut dan empuk, dipotong kecil-kecil, lalu disajikan dengan siraman kuah gula aren yang segar. Rasa kuahnya seimbang, tidak terlalu manis, tapi tetap terasa gurih, pedas, dan sedikit asam.
Tambahan ulekan bawang merah, cabai rawit, dan bawang putih membuat rasanya makin “nendang”. Aromanya cukup tajam, tapi justru itu yang bikin banyak orang ketagihan.
Yang menarik, tahu gejrot ini disantap tanpa sendok. Pembeli biasanya menggunakan tusuk gigi untuk menikmatinya, sederhana, tapi justru menambah kesan tradisional yang autentik.
Dengan harga yang ramah di kantong, sekitar belasan ribu per porsi, tahu gejrot Mang Wardi jadi pilihan favorit banyak orang.
Tempatnya memang jauh dari kata mewah. Hanya ada beberapa bangku sederhana di tengah hiruk-pikuk pasar. Tapi justru di situlah daya tariknya, menikmati kuliner legendaris langsung di tempat asalnya.
Setiap hari, pembeli datang silih berganti. Saat akhir pekan, antrean bahkan bisa jadi pemandangan biasa. Ada yang makan di tempat, ada juga yang rela bungkus untuk dibawa pulang bahkan sebagai oleh-oleh.
Meski sederhana, satu hal yang tetap dijaga adalah rasa. Konsistensi itulah yang membuat tahu gejrot Mang Wardi tetap bertahan dan dicintai hingga sekarang.
Jadi, bila Anda sedang berkunjung ke Cirebon, jangan lewatkan kesempatan mampir ke Pasar Kanoman. Sepiring tahu gejrot hangat dengan kuah segar bisa jadi pengalaman kecil yang ternyata sulit dilupakan.

