Navaswara.com – Warga Teheran dikejutkan oleh fenomena tak biasa pada 8 Maret. Hujan yang turun di beberapa wilayah kota itu berwarna gelap seperti tinta.
Fenomena ini kemudian disebut sebagai “hujan hitam”, yang diyakini muncul setelah serangan terhadap fasilitas minyak di dekat ibu kota Iran.
Para ilmuwan memperingatkan, hujan tersebut kemungkinan membawa partikel beracun yang dapat berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Pada hari yang sama, sejumlah drone Israel dilaporkan menyerang fasilitas penyimpanan minyak dan kilang besar di pinggiran Teheran. Serangan itu memicu kebakaran hebat yang menghasilkan kepulan asap hitam tebal.
Asap dari kebakaran tersebut naik ke atmosfer dan bercampur dengan awan hujan. Ketika hujan turun, airnya membawa partikel hitam serta berbagai bahan kimia hasil pembakaran minyak.
Inilah yang menyebabkan fenomena yang disebut warga sebagai “hujan hitam”.
Nejat Rahmanian, profesor teknik kimia dan perminyakan di Universitas Bradford, Inggris, mengatakan peristiwa itu mengingatkannya pada kejadian serupa puluhan tahun lalu.
Ia menuturkan, sekitar 35 tahun lalu warga Teheran juga pernah mengalami hujan yang meninggalkan noda hitam pada pakaian yang dijemur di luar rumah.
Saat itu masyarakat belum memahami penyebabnya. Namun kemudian para ilmuwan menyimpulkan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan kebakaran sumur minyak di Kuwait selama Perang Teluk.
Kebakaran besar itu menghasilkan kabut asap yang menyebar ke berbagai wilayah di Timur Tengah, termasuk Iran.
Sebuah studi pada 2018 yang dipimpin oleh peneliti Jiamao Zhou dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok menemukan bahwa kabut asap dari kebakaran minyak tersebut mengandung hidrokarbon dan sulfur dioksida dalam jumlah besar.
Polutan itu bahkan dikaitkan dengan pencemaran udara luas hingga mempercepat pencairan gletser di wilayah Himalaya.
Risiko kesehatan dan Polusi Jangka Panjang
Konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut telah memasuki minggu ketiga. Selama periode ini, berbagai serangan terus memicu kebakaran dan ledakan yang melepaskan polutan berbahaya ke udara.
Para ahli memperingatkan dampaknya bisa lebih serius karena sumber polusi berada sangat dekat dengan Teheran.
Wilayah metropolitan Teheran sendiri dihuni sekitar 18,5 juta orang, sehingga potensi paparan polutan sangat besar.
Doug Weir, kepala organisasi Environmental and Conflict Observatory (CEOBS), mengatakan fasilitas minyak memang sering menjadi target dalam konflik bersenjata.
Namun menurutnya, jarang ada fasilitas semacam itu yang berada begitu dekat dengan kota besar.
CEOBS mencatat lebih dari 300 insiden yang berpotensi menimbulkan risiko lingkungan selama konflik yang sedang berlangsung.
Ledakan rudal dan bom dapat melepaskan logam berat serta zat kimia beracun ke udara, tanah, dan air. Polutan tersebut bisa bertahan di lingkungan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.
Weir menilai serangan terhadap fasilitas penyimpanan minyak di dekat Teheran berpotensi menjadi salah satu insiden polusi terbesar dalam konflik saat ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa otoritas Iran sempat meminta masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan.
Peringatan ini muncul karena kekhawatiran bahwa hujan yang terkontaminasi bahan kimia dapat menyebabkan iritasi kulit serta gangguan pada paru-paru.
David JX Gonzalez, asisten profesor di Universitas California, Berkeley, mengatakan polutan dari pembakaran minyak dapat memicu gangguan pernapasan akut.
Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan perempuan hamil.
Seorang insinyur Iran bahkan mengaku telah membawa keluarganya meninggalkan Teheran menuju wilayah utara negara itu.
Menurutnya, banyak orang mungkin mampu menghadapi situasi konflik, tetapi kualitas udara yang buruk jauh lebih sulit untuk ditoleransi.
Sebelum konflik terbaru ini terjadi, Teheran sebenarnya sudah dikenal memiliki masalah polusi udara yang serius.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya konsentrasi tinggi partikel berbahaya dan logam berat seperti timbal, kadmium, kromium, serta nikel di udara dan air kota tersebut.
Selain itu, gas beracun dari pembakaran bahan bakar fosil dan limbah juga menjadi sumber pencemaran yang signifikan.
Dimitris Kaskaoutis, fisikawan dari Observatorium Nasional Athena, mengatakan lalu lintas padat dan aktivitas industri di sekitar kota merupakan penyumbang utama emisi polutan.
Letak geografis Teheran juga memperburuk kondisi tersebut. Kota ini berada di kaki Pegunungan Alborz, yang sering menghambat sirkulasi udara. Kondisi ini dapat memicu fenomena inversi suhu, di mana lapisan udara hangat menahan udara dingin yang penuh polutan di dekat permukaan tanah.
Akibatnya, polusi bisa terperangkap di atmosfer bawah selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Dalam kondisi normal, hujan biasanya membantu membersihkan polusi dari udara.
Namun dalam kasus kebakaran minyak, hujan justru dapat membawa polutan yang larut dalam air langsung ke permukaan tanah.
Menurut Kaskaoutis, air hujan yang tercemar bahan kimia dari kebakaran minyak bisa menjadi lebih beracun dan lebih mudah masuk ke dalam tubuh manusia.
Paparan zat tersebut berpotensi memengaruhi sistem saraf, sistem peredaran darah, serta organ penting seperti ginjal dan hati.
Fenomena “hujan hitam” di Teheran pun kini menimbulkan kekhawatiran bahwa dampak lingkungannya bisa berlangsung jauh lebih lama daripada konflik itu sendiri.
