Susah Dapat Ojol Saat Buka Puasa dan Logika Algoritma yang Tersendat

Navaswara.com – Sejak beberapa hari lalu, keluhan sulit mendapatkan driver ojek daring selama Ramadan ramai muncul di media sosial. Banyak pengguna mengunggah tangkapan layar aplikasi yang terus mencari pengemudi tanpa hasil dan ujung-ujungnya di-cancel. Cerita serupa berulang di berbagai platform dan memperlihatkan frustrasi yang sama sore jam pulang kerja.

Menjelang magrib, Jakarta berubah menjadi panggung kemacetan yang semakin padat sekaligus memperlihatkan celah dalam sistem layanan digital. Di layar ponsel pekerja di Sudirman, Thamrin, hingga Kuningan, pola yang sama muncul berulang. Indikator pencarian driver berputar lama sementara ikon motor memenuhi peta tanpa satu pun menerima pesanan.

Hujan deras, genangan, dan lalu lintas yang menumpuk memperparah situasi. Banyak pengemudi memilih menepi atau menunggu kondisi lebih tenang. Permintaan yang memuncak dalam waktu sempit membuat keseimbangan antara penumpang dan pengemudi semakin rapuh.

Data survei litbang media 2025 menunjukkan permintaan ojek daring meningkat sekitar 20 persen pada pukul 16.00 hingga 18.00. Angka ini menggambarkan lonjakan mobilitas menjelang berbuka. Namun pada saat yang sama, sistem aplikasi sering terlihat lambat merespons permintaan yang datang bertubi-tubi.

Rasionalitas Pengemudi di Tengah Sistem yang Kaku

Cerita yang beredar sering menuduh pengemudi terlalu memilih pesanan. Pandangan itu terasa sederhana jika dibandingkan dengan situasi di lapangan. Banyak mitra pengemudi memilih mematikan aplikasi sekitar setengah jam sebelum azan magrib sebagai keputusan yang masuk akal secara manusiawi sekaligus ekonomi.

Padahal, pengemudi tetap manusia dengan kebutuhan berbuka puasa dan beristirahat. Kota yang macet tidak memberi banyak ruang bagi pekerja informal untuk berhenti sejenak dengan nyaman. Mencari warung takjil atau pulang sebentar sering menjadi pilihan paling realistis.

Pertimbangan lain berkaitan dengan hitungan biaya. Kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta pada sore Ramadan bisa turun di bawah 10 kilometer per jam. Mesin menyala lebih lama sementara jarak tempuh pendek membuat konsumsi bahan bakar meningkat. Tambahan tarif dari aplikasi kerap tidak cukup menutup biaya yang keluar selama perjalanan di jalur padat.

Tarif perjalanan yang relatif rendah juga memengaruhi cara pengemudi memilih rute dan pesanan. Banyak pengemudi cenderung menghindari jalur padat dan memilih perjalanan yang lebih efisien agar waktu tempuh sebanding dengan pendapatan. Perhitungan ini muncul dari pengalaman sehari-hari di jalan. Ketika satu perjalanan memakan waktu terlalu lama akibat macet, pendapatan yang diterima sering terasa tidak sebanding dengan bensin, tenaga, dan waktu yang terpakai.

Tekanan Rating di Tengah Kemacetan

Masalah lain muncul dari sistem penilaian pelanggan. Dalam ekonomi berbasis aplikasi, rating bintang menjadi ukuran reputasi pengemudi. Nilai yang turun dapat memengaruhi peluang mendapatkan pesanan berikutnya.

Kemacetan yang berasal dari kondisi kota sering kali tetap berujung pada penilaian buruk. Pelanggan yang menunggu terlalu lama menumpahkan kekesalan di kolom chat atau memberi bintang rendah. Bagi pengemudi, satu perjalanan yang terlambat bisa berdampak pada performa akun mereka.

Karena itu sebagian pengemudi berpengalaman memilih menjauhi kawasan padat seperti Sudirman pada jam rawan. Langkah tersebut bukan alasan enggan bekerja. Mereka berusaha menjaga stabilitas akun agar tetap aktif dan tidak terhambat oleh algoritma yang tidak membaca konteks kemacetan.

Tantangan bagi Sistem Platform

Situasi ini memperlihatkan keterbatasan sistem pencocokan algoritma yang digunakan platform transportasi daring. Lonjakan musiman seperti Ramadan belum sepenuhnya terakomodasi dalam perhitungan aplikasi. Beban risiko akhirnya terbagi secara tidak seimbang antara pengemudi dan pelanggan.

Beberapa penyesuaian layak dipertimbangkan. Skema tarif dinamis dapat memperhitungkan waktu tunggu dan kepadatan lalu lintas secara lebih realistis. Sistem rating juga perlu memberi perlindungan pada jam kemacetan ekstrem agar keterlambatan akibat kondisi jalan tidak langsung memengaruhi reputasi pengemudi.

Penyediaan titik jemput atau area istirahat yang memadai juga penting agar pengemudi dapat berbuka tanpa harus sepenuhnya keluar dari sistem. Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi konkret, keruwetan mobilitas selama bulan puasa akan terus berulang dan menjadi preseden buruk. Tantangan ini bukan lagi semata urusan kemacetan lalu lintas, melainkan cerminan nyata tentang bagaimana nilai-nilai empati dan kemanusiaan seharusnya diintegrasikan secara utuh ke dalam algoritma ekonomi digital kita.

Oleh: Sutrisno Agus, Pengamat Transportasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *