AI Mulai Digunakan dalam Operasi Militer AS, Israel, dan Iran

Navaswara.com – Teknologi kecerdasan buatan (AI) dilaporkan mulai memainkan peran penting dalam operasi militer modern, termasuk dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

AI digunakan untuk mengolah data intelijen, menganalisis informasi pengawasan, hingga membantu menentukan target serangan. Para analis menilai teknologi ini dapat mempercepat proses pengambilan keputusan di medan perang.

Sejumlah laporan menyebut berbagai sistem AI telah digunakan dalam operasi militer Israel di Gaza. Teknologi serupa juga disebut digunakan dalam operasi Amerika Serikat yang menargetkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Tetapi, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah terkait mengenai penggunaan sistem tersebut.

Para ahli juga meyakini AI turut membantu proses penentuan target dalam ribuan serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari. Meski demikian, peran pasti teknologi tersebut belum dijelaskan secara terbuka.

Laure de Roucy-Rochegonde dari Institut Hubungan Internasional Prancis (IFRI) mengatakan, hampir semua kekuatan militer besar saat ini mulai berinvestasi dalam teknologi AI untuk kepentingan militer.

Menurutnya, teknologi ini dapat digunakan di berbagai bidang, mulai dari logistik hingga operasi intelijen.

“Hampir setiap fungsi militer bisa ditingkatkan oleh AI, mulai dari logistik, pengintaian, pengawasan, perang informasi, hingga keamanan siber,” kata Roucy-Rochegonde.

Selain itu, AI juga mulai diintegrasikan dalam drone serang semiotonom dan berbagai sistem senjata lainnya.

Salah satu fungsi utama AI adalah mempercepat proses yang dikenal dalam dunia militer sebagai kill chain atau rantai penyerangan. Istilah ini merujuk pada tahapan mulai dari mendeteksi target hingga meluncurkan serangan.

Dengan bantuan AI, proses yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat karena sistem mampu menganalisis data dalam jumlah besar secara lebih cepat.

Militer Amerika Serikat saat ini menggunakan Maven Intelligent System (MSS), sebuah platform analisis data yang dikembangkan perusahaan Palantir. Sistem ini dirancang untuk memproses data intelijen dan membantu mengidentifikasi target potensial.

Beberapa laporan juga menyebut model AI Claude milik perusahaan Anthropic telah diintegrasikan ke dalam sistem tersebut untuk meningkatkan kemampuan analisis data.

kepala badan AI militer Prancis (AMIAD) Bertrand Rondepierre mengungkapkan, algoritma AI memungkinkan militer memproses informasi dalam jumlah besar secara lebih cepat.

Ia menerangkan, sistem tersebut dapat menyaring berbagai jenis data, termasuk citra satelit, radar, gelombang elektromagnetik, suara, hingga video waktu nyata.

Muncul Perdebatan Etika dan Hukum

Di sisi lain, penggunaan AI dalam operasi militer juga menimbulkan perdebatan terkait etika dan tanggung jawab hukum.

Perdebatan tersebut muncul selama perang di Gaza, ketika militer Israel dilaporkan menggunakan sistem bernama “Lavender”. Program ini disebut dapat secara otomatis mengidentifikasi target berdasarkan pola data tertentu.

Roucy-Rochegonde memaparkan, sistem seperti itu dapat berfungsi karena Israel memiliki jaringan pengawasan yang luas sehingga menyediakan data dalam jumlah besar untuk dianalisis oleh algoritma.

Namun, kondisi serupa kemungkinan tidak tersedia di Iran.

Ketua Komisi Internasional Pengendalian Senjata Robotik (ICRAC) Peter Asaro juga mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab jika terjadi kesalahan dalam proses penargetan.

“Jika terjadi kesalahan, siapa yang bertanggung jawab?” kata Asaro dalam sebuah wawancara.

Ia menyinggung laporan pemboman sebuah sekolah di Iran yang menurut otoritas setempat menewaskan sekitar 150 orang. Insiden tersebut diduga berkaitan dengan kesalahan penargetan.

Amerika Serikat dan Israel saat ini masih menyelidiki serangan tersebut. Lokasi sekolah itu disebut berada di dekat dua fasilitas yang dikelola Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menurut Asaro, jika AI memang digunakan dalam proses penargetan, maka kualitas data yang digunakan menjadi faktor penting. Data yang tidak akurat dapat menyebabkan kesalahan dalam menentukan target.

Sementara, Rondepierre menegaskan sebagian besar sistem AI militer masih berada di bawah kendali manusia di tingkat komando.

Benjamin Jensen dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) meneragkan, penggunaan AI dalam peperangan kemungkinan akan terus berkembang dalam beberapa dekade ke depan.

“Kita mungkin membutuhkan satu generasi untuk benar-benar memahami implikasinya,” pungkas Jensen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *