Pameran Menulis dengan Satu Jari, Jejak Wagiono Sunarto di Selasar Sunaryo

Navaswara.com – Pameran tunggal bertajuk “Menulis dengan Satu Jari” menghadirkan arsip, sketsa, kartun, hingga karya desain grafis dari mendiang Wagiono Sunarto di Ruang B, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Berlangsung sejak 17 Oktober 2025 hingga 26 April 2026, pameran ini mengajak kita menelusuri kembali karya-karya dari salah satu desainer grafis terbaik Indonesia yang dikenal sangat konsisten.

Lebih dari 120 karya ditampilkan dalam pameran ini. Mencakup arsip pribadi, catatan proses kreatif, dummy buku, rancangan logo, poster, ilustrasi editorial, hingga kartun yang pernah dipublikasikan di berbagai media. Pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang Wagiono, mulai dari masa awal kariernya sebagai ilustrator dan kartunis, kiprahnya dalam dunia pendidikan desain, hingga kontribusinya dalam membangun kesadaran betapa pentingnya riset dalam praktik desain grafis Indonesia.

Pada bagian awal, kita akan disambut dengan arsip dan sketsa tangan yang memperlihatkan bagaimana mendiang Wagiono memulai gagasan dari coretan-coretan sederhana. Sketsa tersebut menunjukkan eksplorasi huruf, simbol, dan metafora visual yang menjadi fondasi desain akhir. Bagian berikutnya menghadirkan kartun-kartun dengan kritik sosial yang tajam namun disampaikan secara halus. Sementara itu, di bagian akhir, ditampilkan karya desain grafis seperti poster budaya hingga sampul buku.

Tema “Menulis dengan Satu Jari” memiliki makna yang puitis sekaligus reflektif. Secara harfiah, frasa ini merujuk pada kebiasaan Wagiono yang kerap mengetik menggunakan satu jari, sebuah gestur sederhana yang mencerminkan ketekunan dan kesabaran. Namun secara metaforis, tema ini menandai caranya menyampaikan gagasan melalui desain. Satu jari juga dinilai menjadi simbol fokus, bahwa desain bukan sekadar ornamen visual, tapi juga proses berpikir yang terarah, presisi, dan penuh pertimbangan.

Salah satu karya yang ditampilkan adalah poster berjudul “Aksara sebagai Wajah Bangsa”. Poster ini menampilkan eksplorasi tipografi berbasis huruf Latin yang diolah menyerupai ritme aksara tradisional Nusantara. Secara visual, huruf-huruf tampak bertumpuk dan berjalin, membentuk komposisi yang dinamis namun tetap terbaca dengan baik. Makna yang diusung Wagiono adalah pentingnya identitas kultural dalam praktik desain modern.

Contoh karya lainnya adalah kartun editorial berjudul “Antara Tinta dan Suara”. Dalam karya ini, digambarkan sosok kecil yang berdiri di tengah lembaran kertas kosong raksasa sambil memegang pena yang hampir sebesar tubuhnya. Visual tersebut menyiratkan tantangan seorang kreator dalam menyuarakan kebenaran di tengah ruang publik yang luas dan kompleks. Kartun ini merefleksikan pandangan sang seniman tentang tanggung jawab moral desainer dan ilustrator sebagai komunikator sosial.

Selain dua karya tersebut, pengunjung juga dapat melihat rancangan identitas visual dari berbagai institusi, eksperimen layout majalah, hingga catatan kuliah yang menunjukkan perannya sebagai pendidik. Arsip-arsip tersebut memperlihatkan bahwa Wagiono juga turut membangun kerangka berpikir desain yang sistematis dan kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *