Masjid Rahmatullah di Lampuuk, Tetap Berdiri di Tengah Dahsyatnya Tsunami Aceh

Navaswara.com – Tak ada yang benar-benar siap menyaksikan laut berubah menjadi dinding raksasa yang melahap daratan. Pagi itu, 26 Desember 2004, ombak menggulung tanpa ampun. Rumah-rumah tersapu, jalanan lenyap, dan sebuah perkampungan di pesisir Lampuuk, Aceh Besar, seketika rata dengan tanah.

Namun di tengah puing dan kehilangan, satu bangunan tetap berdiri.

Kubah hitamnya masih tegak menatap langit. Dindingnya memang terdapat kerusakan, tetapi tak runtuh. Itulah Masjid Rahmatullah, masjid yang kemudian dikenal luas sebagai saksi bisu kedahsyatan tsunami Aceh.

Kampung yang Hilang dalam Sekejap

Sebelum bencana datang, kawasan ini dihuni sekitar 6.000 jiwa. Mayoritas warganya merupakan karyawan PT Semen Andalas Indonesia, selain nelayan, petani, dan keluarga-keluarga yang hidup mapan di tepi pantai. Lampuuk kala itu dikenal sebagai kawasan pesisir yang asri dan nyaman.

Semua berubah dalam hitungan menit.

Gelombang tsunami menghantam dan menyeret bangunan hingga ratusan meter ke daratan. Dari ribuan warga, hanya sekitar 700 orang yang selamat. Selebihnya menjadi bagian dari duka panjang Aceh.

Di antara seluruh kehancuran itu, Masjid Rahmatullah tetap berdiri, meski jaraknya hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai.

Masjid ini sebelumnya diresmikan pada 12 September 1997 oleh Gubernur Aceh saat itu, Syamsudin Mahmud. Namanya berarti “rahmat Allah”, sebuah nama yang terasa begitu dalam maknanya setelah bencana itu.

Foto yang Menggema ke Dunia

Gambar-gambar udara pascatsunami memperlihatkan pemandangan yang sulit dipercaya, seluruh kampung rata dengan tanah, sementara masjid tampak kokoh berdiri di tengah kehampaan. Foto-foto itu menyebar luas, menarik perhatian jurnalis dan fotografer dari berbagai negara.

Masjid Rahmatullah pun menjadi simbol harapan di tengah kabut duka.

Seiring masuknya bantuan internasional, Aceh perlahan bangkit. Kawasan Lampuuk ditata ulang. Masjid Rahmatullah direnovasi dan diperluas. Sepasang menara kembar ditambahkan, membuat tampilannya semakin megah dibanding sebelumnya.

Namun, ada bagian yang sengaja tidak “dipoles”.

Beberapa sisi belakang masjid tetap dipertahankan dalam kondisi rusak akibat tsunami. Retakan dan bekas hantaman gelombang itu dibiarkan sebagai perenungan bahwa Tuhan pernah meluluhlantakkan tempat ini dalam sekejap.

Kini, dari puncak menaranya, bentangan laut Lampuuk tampak tenang. Kawasan yang dikenal sebagai “Kampung Turki” itu kembali hidup, dengan rumah-rumah berdiri rapi dan aktivitas warga berjalan seperti biasa.

Sulit membayangkan bahwa di titik yang sama, ribuan nyawa pernah melayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *