Navaswara.com – Berbelanja, menyantap kuliner lezat, atau bahkan liburan impulsif kini kerap diposisikan sebagai bentuk perawatan diri (self-care). Penggunaan istilah self-reward seolah memberi legitimasi pada keputusan konsumtif yang bersifat personal tersebut.
Meski aktivitas ini mampu menghadirkan rasa bahagia dalam sekejap, di sisi lain, pengeluaran yang terjadi secara berulang ini sering kali tidak dibarengi dengan perencanaan finansial yang matang.
Momentum gaji cair sering kali dianggap sebagai “lampu hijau” untuk mulai berbelanja. Setelah melewati hari kerja yang melelahkan, memberikan hadiah kecil untuk diri sendiri dinilai sebagai hal yang wajar dan pantas.
Self-reward lantas dianggap sebagai jalan pintas untuk meredakan penat. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini perlahan membentuk pola perilaku yang dampaknya jarang disadari oleh individu tersebut.
Self-Reward dan Alasan yang Terasa Masuk Akal
Ridho, 27 tahun, mengaku sudah tiga kali mengganti ponsel dalam setahun. Setiap keputusan selalu datang di momen yang sama. Saat lelah, kecewa, atau sedang tidak baik-baik saja. “Rasanya pengin punya sesuatu yang baru supaya mood naik,” ujarnya.
Pengalaman Ridho mudah ditemukan di media sosial. Tagar selfreward dan treatyourself dipenuhi unggahan belanja impulsif, liburan singkat, hingga santapan mahal. Narasinya seragam. “Aku pantas bahagia.” Yang jarang dibahas adalah perasaan setelah euforia itu lewat dan saldo rekening mulai menipis.
Psikolog klinis Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menyebut self-reward pada dasarnya bukan konsep yang keliru. Memberi penghargaan atas pencapaian tertentu dapat membantu menjaga motivasi dan kondisi mental. Masalah muncul ketika hadiah berubah fungsi. “Kalau setiap stres langsung belanja, itu sudah masuk mekanisme pelarian,” ujarnya.

Kepuasan Singkat dan Efek Berulang
Secara biologis, belanja memang memicu pelepasan dopamin yang memberi rasa senang instan. Namun efeknya cepat hilang. Yang tertinggal sering kali justru penyesalan dan kecemasan finansial. “Pola ini bisa berulang. Stres, belanja, senang sebentar, lalu cemas karena boros,” kata Vera. Ia menyebut pola tersebut mirip adiksi ringan yang kerap tidak disadari.
Teknologi ikut memperkuat siklus itu. Belanja digital menghilangkan jeda berpikir. Tinggal geser layar, klik, dan bayar. Rasa kehilangan uang yang biasanya terasa saat transaksi tunai menjadi samar. Algoritma e-commerce dan media sosial juga bekerja agresif. Iklan muncul sesuai kebiasaan, diskon terasa mendesak, dan ulasan dibuat meyakinkan.
Vera menekankan beberapa tanda sederhana. Self-reward yang sehat biasanya terkait pencapaian jelas, bukan sebatas respons terhadap hari yang melelahkan. Selain itu, hadiah seharusnya bisa dinikmati tanpa rasa bersalah berlebihan. Jika setelah belanja justru muncul kecemasan soal tagihan, batasnya sudah terlewati.
Dari sisi keuangan, perencana keuangan Prita Ghozie melihat banyak orang lupa memberi ruang khusus untuk kesenangan. “Budget sering fokus ke kebutuhan dan investasi, tapi lupa hiburan,” ujarnya. Ia menyarankan pembagian 50 persen kebutuhan, 30 persen keinginan termasuk self-reward, dan 20 persen tabungan. Dengan kerangka itu, keinginan tetap terakomodasi tanpa mengganggu stabilitas finansial.
Hadiah untuk Diri Sendiri yang Lebih Bertahan Lama
Self-reward tidak selalu identik dengan pengeluaran besar. Kepuasan yang lebih bertahan lama kerap muncul dari aktivitas yang memberi ruang bernapas bagi pikiran. Waktu tenang tanpa gawai, olahraga yang konsisten, kembali ke hobi lama, atau berbincang dengan orang terdekat sering memberi efek yang lebih utuh bagi kondisi mental.
Bagi yang tetap ingin memberi hadiah material, Prita menyarankan jeda. Tunda keputusan membeli selama beberapa hari. Jika keinginan itu masih terasa relevan setelahnya, barulah dipertimbangkan. “Banyak dorongan belanja hilang setelah diberi waktu,” katanya.
Kesadaran untuk menunda keputusan belanja mulai dianggap sebagai langkah praktis menghadapi stres tanpa menambah beban baru. Dengan memberi jarak antara dorongan dan aksi, banyak orang menemukan cara merawat diri yang tidak berujung penyesalan finansial.
Tak bisa dimungkiri, self-reward tetap memiliki tempat tersendiri di tengah tuntutan hidup yang tinggi.
Kendati demikian, ketika kebiasaan tersebut justru menjadi beban tambahan dan memicu kecemasan baru, ada baiknya Anda berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi.
Pasalnya, upaya merawat diri seharusnya mampu menghadirkan rasa aman. Membiarkan kondisi kantong menjadi “kering” jelas bukan merupakan bentuk kasih sayang yang tepat bagi diri sendiri.
