Seulawah RI-001, Pesawat Sumbangan Rakyat Aceh untuk Awal Kemerdekaan Indonesia

Navaswara.com – Aceh memiliki sejarah panjang dalam perjuangan Indonesia, bukan hanya lewat perlawanan bersenjata, tetapi juga dukungan nyata pada masa awal kemerdekaan. Salah satu simbol kontribusi tersebut adalah Seulawah RI-001, pesawat yang dibeli dari hasil sumbangan masyarakat Aceh dan kini direpresentasikan melalui monumen replika di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Replika pesawat angkut itu berdiri mencolok di ruang terbuka kota dan kerap menjadi perhatian warga maupun wisatawan. Monumen tersebut mengingatkan pada peristiwa penting pada 1948, saat Indonesia masih menghadapi tekanan militer Belanda dan membutuhkan sarana transportasi udara untuk menjaga konektivitas serta diplomasi internasional.

Pada masa itu, Presiden Soekarno datang ke Aceh untuk menggalang dukungan. Respons masyarakat tergolong besar. Para saudagar, tokoh masyarakat, hingga warga umum ikut menyumbangkan dana, emas, dan perhiasan. Dari pengumpulan tersebut, pemerintah kemudian membeli pesawat Douglas DC-3 yang diberi nama Seulawah, yang dalam bahasa Aceh sering dimaknai sebagai “gunung emas”.

Pesawat tipe Douglas DC-3 sendiri dikenal sebagai salah satu pesawat angkut paling andal pada era tersebut. Dengan dua mesin baling-baling, pesawat ini mampu membawa muatan cukup besar dan menjangkau jarak antarpulau, sehingga sangat membantu mobilitas Indonesia di tengah keterbatasan sarana transportasi saat itu.

Monumen replika Seulawah RI-001 di Blang Padang diresmikan pada 30 Juli 1984 atas inisiatif TNI Angkatan Udara. Pada badan pesawat terdapat tulisan “Persembahan Rakjat Atjeh”, yang menegaskan peran masyarakat Aceh dalam pengadaan pesawat tersebut. Di bagian bawah monumen juga terdapat prasasti yang menjelaskan latar sejarah dan penghargaan terhadap kontribusi rakyat Aceh.

Kini kawasan Blang Padang tidak hanya menjadi ruang terbuka publik untuk olahraga dan aktivitas warga, tetapi juga titik wisata sejarah di Banda Aceh. Kehadiran monumen Seulawah RI-001 menjadikannya lokasi untuk merenungkan solidaritas masyarakat Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Bagi pengunjung yang tertarik pada sejarah, lokasi ini sering dikunjungi bersamaan dengan destinasi lain di pusat Banda Aceh, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan beberapa museum sejarah. Selain sebagai spot foto, monumen ini juga menjadi pengingat pentingnya dukungan masyarakat dalam perjalanan mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *