Navaswara.com – Kebiasaan membaca label informasi nilai gizi pada kemasan makanan dan minuman kian umum dilakukan. Namun, di balik tren positif ini, masih ada kekeliruan yang sering terjadi. Banyak konsumen hanya memperhatikan angka kandungan gula tanpa memahami bahwa angka tersebut dihitung berdasarkan takaran saji, bukan keseluruhan isi kemasan.
Padahal, pada hampir semua produk pangan olahan, informasi gula, kalori, dan zat gizi lain merujuk pada satu takaran saji tertentu. Takaran saji ini bisa berupa 200 mililiter minuman, 30 gram sereal, atau dua sendok es krim, sementara satu kemasan bisa berisi lebih dari satu takaran saji.
“Angka gula yang tertulis di label itu selalu berbasis takaran saji. Masalahnya, konsumen sering mengonsumsi satu kemasan penuh tanpa menghitung ulang,” kata dr. Vania Utami. Ia melanjutkan, “Kalau di label tertulis 10 gram gula per takaran saji dan dalam satu kemasan ada 1,5 takaran saji, maka total gula yang masuk adalah 15 gram.”
Contoh yang sering ditemui ada pada minuman kemasan ukuran sedang. Sebuah botol minuman mencantumkan kandungan gula 12 gram per takaran saji, dengan keterangan jumlah sajian per kemasan sebanyak 1,5. Artinya, jika botol tersebut diminum sampai habis, asupan gula sebenarnya mencapai 18 gram, bukan 12 gram seperti yang kerap diasumsikan.
Kesalahan membaca takaran saji ini membuat konsumsi gula harian jadi mudah melewati batas aman. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan maksimal 50 gram per hari, dengan anjuran ideal di bawah 25 gram. Tanpa disadari, satu produk dengan 1,5 hingga 2 takaran saji bisa menyumbang porsi besar dari batas harian tersebut.
dr. Vania menjelaskan bahwa pola ini banyak ditemukan pada minuman manis, jus kemasan, sereal sarapan, snack, hingga es krim. “Takaran saji di label sering lebih kecil dari porsi makan atau minum kebiasaan. Itu sebabnya konsumen perlu melihat kolom ‘jumlah sajian per kemasan’ sebelum merasa aman,” ujarnya.
Ia menegaskan, membaca label dengan benar bukan hanya soal melihat angka gula, tetapi memahami konteks angka tersebut. “Kalau satu kemasan berisi 1,5 atau 2 takaran saji dan dikonsumsi sekaligus, maka semua angka di label harus dikalikan,” kata dr. Vania.
Menurutnya, peningkatan literasi gizi menjadi kunci agar konsumen tidak terjebak angka yang terlihat kecil. Dengan memahami arti takaran saji dan jumlah sajian per kemasan, konsumen dapat memperkirakan asupan gula secara lebih akurat dan membuat pilihan yang lebih sadar untuk kesehatan jangka panjang.
