Diplomasi Perempuan Indonesia–Pakistan: Wamendag Roro Dorong Kewirausahaan Inklusif

Navaswara.com — Diplomasi Indonesia di panggung internasional tidak hanya berbicara soal angka perdagangan dan neraca ekspor, tetapi juga tentang manusia, kesetaraan, dan masa depan yang inklusif. Hal inilah yang tercermin dalam pertemuan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri beberapa hari lalu dengan Ibu Negara Republik Islam Pakistan Aseefa Bhutto Zardari di Karachi, pada Sabtu (10/1/2026).

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan terbuka tersebut, Wamendag Roro mendorong penguatan kerja sama Indonesia–Pakistan dalam pemberdayaan perempuan, khususnya melalui pengembangan kewirausahaan. Hadir mendampingi Ibu Negara Pakistan, Chief Minister Sindh Syed Murad Ali Shah bersama jajaran pemerintah Provinsi Sindh.

Bagi Wamendag Roro, pemberdayaan perempuan bukan hanya agenda sosial, melainkan investasi strategis bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan. Ia menyampaikan apresiasi atas komitmen kuat Ibu Negara Pakistan dalam mendorong peran perempuan di ruang publik dan ekonomi.

“Sebagai perempuan yang diberi amanah di pemerintahan, saya meyakini bahwa pendidikan, akses ekonomi, dan kepemimpinan perempuan adalah fondasi penting pembangunan yang inklusif. Karena itu, kami melihat peluang besar untuk membangun kerja sama kewirausahaan perempuan antara Indonesia dan Pakistan,” ujar Roro.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui program peningkatan kapasitas, penguatan keterampilan usaha, hingga dialog kebijakan perdagangan yang memberi ruang lebih luas bagi perempuan pelaku usaha. Pertukaran pengalaman dan praktik terbaik diharapkan dapat memperkaya kebijakan kedua negara.

Wamendag Roro juga memaparkan pengalaman Indonesia dalam mendorong perdagangan inklusif. Hingga 2025, Indonesia memiliki 65,5 juta UMKM, dengan 64,5 persen di antaranya dikelola oleh perempuan. UMKM sendiri menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi hampir 62 persen terhadap PDB.

“Perempuan adalah kekuatan utama ekonomi rakyat. Dengan kebijakan yang tepat, mereka bukan hanya pelaku usaha, tetapi agen perubahan,” ujarnya.

Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari menyambut positif tawaran kerja sama tersebut. Ia berbagi pengalaman dalam menjalankan program sosial, termasuk pemulihan pascabanjir besar di Sindh pada 2022, ketika lebih dari dua juta rumah tahan iklim dibangun dan kepemilikan tanah dialihkan kepada perempuan kepala keluarga.

Pertemuan ini juga membahas penguatan kerja sama ekonomi Indonesia–Pakistan. Wamendag Roro menyampaikan bahwa kedua negara baru saja menandatangani Nota Kesepahaman pembentukan Joint Trade Commission (JTC) sebagai langkah strategis menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027.

Diplomasi ini menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Pakistan tidak hanya bertumpu pada perdagangan, tetapi juga pada nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan kesejahteraan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *