Kurma Park Pasuruan: Destinasi Agrowisata Edukasi, Pionir Kebun Kurma Tropis di Kaki Arjuno

Navaswara.com – Kurma Park di Dusun Karanglo, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, kini tak hanya dikenal sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi modern tentang tanaman kurma, sekaligus pendorong vital bagi ekonomi lokal di kaki Gunung Arjuno.

Kurma Park, yang sebelumnya dikenal sebagai Wisata Kebun Kurma, merupakan pelopor destinasi di Indonesia yang memadukan liburan dan edukasi mengenai budidaya kurma. Kebun ini menghadirkan suasana asri dengan ratusan pohon kurma dari sepuluh jenis berbeda, mulai dari kurma ajwah, barhee, lulu, hingga medjol dan sukari.

Menariknya lagi, kebun seluas sepuluh hektare ini diperkaya dengan koleksi flora khas Timur Tengah, seperti siwak, tin, zaitun, hingga delima, disandingkan dengan tanaman tropis lokal seperti matoa dan aneka durian.

Ihwal berdirinya Kurma Park bermula dari rasa penasaran sang pendiri, H. Moch Roeslani, generasi pertama pada 2016. Ambisinya adalah membuktikan bahwa kurma, yang identik dengan kawasan subtropis, dapat tumbuh subur di Indonesia. Berangkat dari riset dan pembelajaran dari petani di Thailand, investasi pada bibit kurma pun dimulai.

Sebagai pionir di daerah tropis, tantangan yang dihadapi tidak sepele, mulai dari pengkondisian tanah, mitigasi buah rontok saat musim hujan, hingga serangan hama dari area peternakan. Namun, tantangan ini dijawab oleh pengelola generasi ketiga, Haniyah Putri Widi Alifia, Direktur Saygon Park Group (membawahi Kurma Park), melalui riset berkelanjutan, kedisiplinan monitoring, dan integrasi tiga pilar bisnis, yakni pariwisata, pengembangan kurma, dan pengolahan produk.

Demi memperluas daya tariknya melampaui kelompok pecinta kurma, Kurma Park menghadirkan Kurma Land Museum Immersive. Wahana baru ini menawarkan pengalaman edukasi modern yang interaktif, memanfaatkan visual 3D untuk membawa pengunjung seolah berada di Timur Tengah, mempelajari sejarah dan manfaat kurma.

“KurmaLand kami hadirkan agar keluarga bisa bermain sekaligus belajar. Ini adalah langkah awal menjadikan Pasuruan sebagai kota wisata edukatif modern,” ujar Putri kepada Navaswara.com dalam media gathering Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), belum lama ini.

Kurma Park juga menjalankan konsep yang sejalan dengan kriteria “pariwisata ramah muslim” (halal tourism). Sutan Emir Hidayat, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, yang sempat berkunjung, memuji konsep unik tersebut.

“Tempat ini unik, karena ada tanaman kurma (di daerah tropis). Ada juga aspek edukasinya. Selain itu, dikombinasikan dengan kegiatan manasik haji dan umroh, serta adanya doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur’an di sepanjang jalan,” jelas Sutan Emir. Ia juga menggarisbawahi komitmen tempat ini terhadap standar halal, di mana semua makanan dan produk telah tersertifikasi.

Inovasi produk menjadi penanda komitmen keberlanjutan. Kurma Park kini tengah mengembangkan kopi kurma dari limbah biji kurma. Produk ini tidak hanya mendukung ekonomi sirkular, tetapi juga menawarkan diferensiasi berupa kopi tanpa kafein (decaf) dengan aroma manis alami, dipersiapkan untuk pasar ekspor.

Kurma Park secara inklusif mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Kolaborasi dijalin dengan BUMDes melalui model tenant yang memungkinkan masyarakat sekitar membuka usaha, sekaligus melibatkan tenaga kerja lokal.

Di samping nilai edukatifnya, Kurma Park menyediakan beragam fasilitas rekreasi untuk membuat pengunjung betah berlama-lama, seperti kolam anak, sepeda udara, flying fox, manasik haji mini, dan wahana outbound. Destinasi ini menjadi ruang di mana masyarakat dapat menikmati lingkungan yang sejuk dan minim polusi untuk bersepeda, jogging, atau bersantai bersama keluarga.

Kurma Park buka setiap hari kecuali Jumat, pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. Dengan tiket masuk yang terjangkau, yakni Rp15.000 (hari kerja) dan Rp20.000 (akhir pekan), destinasi ini menunjukkan bahwa investasi berbasis pertanian dapat bertransformasi menjadi pusat wisata edukatif yang prospektif dan berkelanjutan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *