Ketika ‘Super Holding’ Danantara Merombak Arsitektur Bisnis Negara

Navaswara.com – Di ranah korporasi pelat merah, ‘kakak-beradik’ seharusnya saling menopang. Namun, selama bertahun-tahun, BUMN di Indonesia justru berjalan dalam kesendirian yang ironis. Mereka bagaikan keluarga besar yang tinggal serumah, tetapi dengan tembok pemisah yang tebal; satu anggota menikmati pesta keuntungan, sementara yang lain sekarat di kamar sebelah tanpa uluran tangan. Kondisi inilah yang membuat banyak raksasa negara, dari PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang perkasa hingga PT INTI yang vital, sempat terhuyung di ambang kebangkrutan. Kini, dengan mandat penyelamatan yang ambisius, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) datang bukan hanya sebagai ‘bankir’, tetapi sebagai arsitek baru yang merobohkan sekat-sekat lama.

Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, memaparkan fakta krusial yang menjadi biang keladi keterpurukan banyak perusahaan milik negara. Dalam paparan New Economic Order di Jakarta, belum lama ini, Dony menunjuk satu penyakit kronis, struktur BUMN di masa lalu yang berjalan tanpa keterkaitan (linkage) dan interkorelasi yang memadai.

Model bisnis BUMN yang terpisah-pisah di masa lalu menciptakan anomali akut. Perusahaan yang menorehkan kerugian besar, seperti PT DJakarta Lloyd dan bahkan Krakatau Steel yang sempat menjadi ikon industri baja nasional, tidak dapat memanfaatkan sokongan dana dari BUMN lain yang tengah mencetak laba fantastis.

“Semakin lama, perusahaan kita bukan makin baik, tapi justru banyak yang tertutup dan tidak bisa survive,” ungkap Dony.

Kondisi ini ibarat membangun rumah di atas pasir. Walaupun beberapa pilar (BUMN unggulan) berdiri kokoh, banyak pilar lain (BUMN yang merugi) yang rentan runtuh, dan keruntuhan itu berpotensi menyeret citra dan stabilitas keuangan kolektif negara. Kasus KRAS yang kini membutuhkan injeksi dana penyelamatan dari Danantara menjadi contoh konkret betapa bahayanya isolasi korporasi tersebut.

Menghadapi kenyataan pahit ini, Danantara ditugaskan sebagai Asset Management dan, secara fungsional, menjelma menjadi ‘super holding’ BUMN. Peran sentral Danantara adalah menciptakan interkorelasi yang hilang itu, memastikan seluruh keuntungan BUMN dikonsolidasikan dalam satu entitas besar, sehingga dapat saling membantu.

“Seluruh keuntungan ini dikonsolidasikan di sini, bisa membantu satu sama lain selama perusahaan itu memiliki prospek yang baik,” jelas Dony.

Penyelamatan tidak bersifat buta. Danantara menerapkan pendekatan berbasis kelayakan dan prospek. Langkah konkretnya adalah memanggil para CEO BUMN yang sedang ringkih untuk mempresentasikan rencana bisnis (business plan) ke depan. Dari presentasi ini, Danantara akan mengevaluasi kelayakan investasi dan dukungan dana yang dibutuhkan.

“Ini bagian dari 22 program kerja kami sampai akhir tahun, termasuk pembenahan Krakatau Steel, Garuda Indonesia dan lainnya,” kata Dony, menegaskan fokus dan skala intervensi yang sedang dilakukan.

Aksi korporasi yang paling mencolok dan mendasar adalah rasionalisasi masif. Danantara memegang kendali untuk mendesain ulang arsitektur BUMN agar lebih solid dan efisien.

Dony mengungkapkan ambisi besar untuk merampingkan seluruh entitas BUMN di Indonesia. Targetnya, dari total sekitar 1.063 perusahaan BUMN yang tersebar luas, jumlahnya akan dirasionalisasi secara agresif menjadi sekitar 200-an perusahaan yang jauh lebih solid dan memiliki skala besar. Langkah ini bukan sekadar pengurangan angka, melainkan upaya mendasar untuk menghilangkan duplikasi bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat daya saing.

Sebagai langkah konkret, Dony mencontohkan keberhasilan mengonsolidasikan 18 perusahaan kecil di sektor logistik menjadi satu entitas besar yang efisien. Upaya penyederhanaan ini adalah kunci. Hasil akhirnya diharapkan bukan hanya angka-angka yang membaik di neraca keuangan, tetapi juga BUMN yang mampu berfungsi optimal sebagai mesin pertumbuhan (engine of growth) bagi perekonomian nasional.

Transformasi struktural ini menegaskan bahwa penyelamatan BUMN bukan hanya soal menyuntik dana, melainkan merombak total simpul-simpul mati yang selama ini membelenggu potensi perusahaan negara. Danantara kini bertaruh untuk membuktikan bahwa keluarga besar BUMN, ketika disatukan dengan arsitektur yang benar, akan menjadi kekuatan pendorong ekonomi yang tak terhentikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *