Navaswara.com — Aroma cat minyak dan debu arsip tua menyambut pengunjung yang memasuki Galeri Salihara, Kamis (2/10) sore itu. Di ruang yang remang dan tenang, lukisan-lukisan bergaya figuratif dengan warna tegas menggantung berderet, menyisakan kesan nostalgia pada masa ketika seni rupa Indonesia masih mencari suaranya sendiri.
Itulah suasana pembuka pameran “Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu”, pameran Komunitas Salihara Arts Center di tahun 2025 yang berlangsung hingga 7 Desember mendatang.
Dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo, pameran ini menghadirkan lebih dari 40 karya cat minyak, sketsa, serta arsip dokumentasi dari kelompok seni Sanggarbambu, komunitas yang berdiri pada akhir 1950-an dan bertahan hingga 1980-an.
Sanggarbambu dikenal sebagai kelompok seniman yang bergerak di luar arus utama. Saat banyak kelompok seni terseret polarisasi politik, mereka memilih jalannya sendiri, berpameran dan berkarya di kota-kota kecil, seperti Brebes, Purwokerto, Tegal, dan Sumenep.
“Pameran ini menampilkan karya dan arsip dari fase emas Sanggarbambu, sekitar tahun 1950 hingga 1970-an. Selama lebih dari setahun, tim kami menelusuri arsip-arsip yang terserak di media dan koleksi pribadi untuk menghadirkan kembali kehidupan senyap para seniman ini,” ungkap Asikin Hasan, kurator Galeri Salihara.
Berbeda dari kelompok sezaman seperti PERSAGI atau Sanggar Pelukis Rakyat, Sanggarbambu tidak memiliki manifesto besar atau tokoh tunggal yang dominan. Mereka mengembangkan gaya lukisan figuratif dan ekspresif, memadukan pengaruh modernisme Barat dengan bentuk dan ornamen tradisional Indonesia.
Menurut Asikin, perpaduan itu melahirkan corak baru dalam seni rupa Indonesial, lukisan dekoratif dan ilustratif yang kemudian berkembang pesat pada 1970-an.
Melalui pameran ini, Salihara berupaya membentangkan kembali sejarah alternatif seni rupa Indonesia, sejarah yang hidup di pinggiran, di luar pusat wacana seni dan kekuasaan.
“Kalau kini kita membicarakan kembali catatan-catatan lama yang tersimpan di perpustakaan dan catatan pribadi para anggotanya, tidak lain untuk berbagi informasi dan pengetahuan,” pungkas Asikin.
Pameran “Di Sini Aku Temukan Kau” terbuka untuk umum setiap hari Selasa hingga Minggu, dengan tiket seharga Rp25.000–Rp35.000 melalui tiket.salihara.org, serta gratis bagi pelajar hingga tingkat S1.
Di tengah hiruk-pikuk seni kontemporer yang kerap berlari cepat, pameran ini mengajak publik untuk menengok ke belakang ke masa ketika karya diciptakan bukan untuk panggung besar, melainkan untuk mendekati kehidupan itu sendiri.
Foto: Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya

