Navaswara.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato bersejarah dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80. Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo menekankan arti persatuan umat manusia, pentingnya solidaritas, dan komitmen bersama untuk menghadapi krisis global mulai dari konflik, ketidakadilan, hingga perubahan iklim.
Prabowo membuka pidatonya dengan penghormatan kepada keberagaman bangsa-bangsa. Ia menegaskan bahwa meski berbeda ras, agama, dan kebangsaan, seluruh umat manusia adalah satu keluarga dengan hak hidup, kebebasan, dan martabat yang sama. Ia mengingatkan kembali pesan universal dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menjadi fondasi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Mengutip pengalaman bangsanya yang pernah dijajah, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia memahami arti keadilan yang dirampas, tetapi juga tahu makna solidaritas ketika negara-negara lain membantu perjuangan kemerdekaan. “Kami tahu rasanya ditolak keadilan, tetapi juga tahu arti solidaritas dalam perjuangan menuju kemerdekaan,” ucapnya.
Dalam pidato itu, Prabowo menyoroti tragedi kemanusiaan yang masih terjadi, termasuk krisis di Gaza. Ia menyerukan agar dunia tidak tinggal diam melihat penderitaan anak-anak, perempuan, dan warga sipil. Indonesia, tegasnya, siap mengirim hingga 20.000 personel penjaga perdamaian PBB bila dibutuhkan, baik ke Gaza maupun wilayah konflik lain.
Selain perdamaian, ia juga mengangkat ketahanan pangan sebagai isu penting. Indonesia kini berhasil mencapai swasembada beras dan mulai mengekspor ke negara-negara yang membutuhkan, termasuk Palestina. Menurutnya, Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari solusi global dalam pangan, energi, dan air.
Prabowo juga menekankan urgensi menghadapi perubahan iklim. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia merasakan langsung kenaikan permukaan laut yang mengancam wilayah pesisir. Untuk itu, pemerintah membangun tanggul laut raksasa sepanjang ratusan kilometer. “Kami memilih menghadapi perubahan iklim bukan dengan slogan, tetapi dengan tindakan nyata,” tegasnya.
Pidato ini tidak hanya berisi peringatan, tetapi juga harapan. Prabowo menegaskan bahwa PBB didirikan untuk menolak doktrin bahwa yang kuat boleh menindas yang lemah. “Benar haruslah benar. Kekuatan tidak bisa menjadi alasan,” ucapnya lantang.
Menutup pidatonya, Presiden menyampaikan dukungan penuh Indonesia pada solusi dua negara bagi Palestina dan Israel. Hanya dengan pengakuan dan jaminan keamanan bagi kedua bangsa itulah, kata dia, perdamaian sejati dapat terwujud. “Apakah ini mimpi? Mungkin. Tapi ini mimpi indah yang wajib kita wujudkan bersama,” tuturnya.
Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa yang tak hanya berdaulat, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi nyata bagi perdamaian dan keadilan dunia. Sebuah pesan kuat bahwa Indonesia hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian penting dari solusi global.
