Mengapa Merak Lengang, BBJ dan Ketapang – Gilimanuk Macet?

Navaswara.com-Sabtu, 14/3 pukul 16.02 saya tiba di Terminal Terpadu Merak (TTM), terminal bus yang mengantarkan orang-orang dari Pelabuhan Merak ke wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Suasana TTM amat sepi, tidak ada tanda-tanda arus mudik. Setelah nunggu 30 menit tidak terlihat ada tanda-tanda pergerakan, saya pun kemudian pindah ke terminal eksekutif, yang merupakan terminal pemberangkatan Kapal Eksekutif. Tapi suasana di terminal ini juga sepi seperti bukan suasana mudik, kecuali banyak petugas dan pedagang musiman saja yang berjualan barang-barang keperluan orang mudik.

Saya kemudian turun di tempat parkiran di terminal eksekutif dan di sini juga tidak ada mobil pemudik yang antre mau masuk ke dermaga. Demikian pula pintu masuk Dermaga 1 yang saat Lebaran 2024 menjadi titik sumber kemacetan hari ini kosong. Padahal ini H-6 dan weekend. Pada musim-musim mudik sebelumnya, kalua sudah H-7 dan itu jatuh weekend, maka itu adalah puncak arus mudik, tapi ini kok tidak ada pergerakan sama sekali. Kondisi jalan di sekitar Pelabuhan Merak menuju dermaga juga sepi-sepi saja. Jangan-jangan yang saya prediksikan bahwa pemudik turun lebih 10℅ dari pemudik 2025 benar.

Selain lenggang dari pemudik, Merak juga lengang dari angkutan barang. Tidak melihat adanya truk keluar/masuk pelabuhan. Mungkin kebijakannya semua angkutan barang dialihkan ke Bandar Bakau Jaya (BBJ) Bojonegara, Kabupaten Serang dan Ciwandan demi menciptakan image bahwa Merak lancar. Tentu ini kebijakan yang salah besar kalo diterapkan secara kaku, tidak fleksibel.

Kebijakan fleksibel yang dimaksudkan disini adalah pada saat siang hari, di mana arus mudik tidak ada atau rendah, Pelabuhan Merak dapat difungsikan sebagai penyeberangan angkutan barang. Saat malam hari ketika arus mudik meningkat, truk baru dialihkan ke BBJ dan Ciwandan. Jadi semua pelabuhan tersedfia di wilayah Banten dapat berfungsi secara optimal, tidak seperti kemarin: yang satu macet dan yang lain kosong mlompong. Akibat dari kebijakan yang kaku itu adalah Pelabuhan Merak pagi – sore kosong, sebaliknya di Pelabuhan BBJ terjadi kemacertan panjang. Ini jelas suatu kekeliruan besar.

Yang menjadi korban dari kemacetan panjang di BBJ ini adalah para pengemudi truk yang harus menunggu lama (sampai dua hari) di pelabuhan yang jauh dari pemukiman dan warung-warung yang dapat mereka pergunakan untuk istirahat. Satu-satunya tempat istirahat pengemudi saat macet di BBJ adalah di kabin truk. Ini beresiko terhadap keselamatan. Sungguh terasa tidak manusiawi bila kebijakan sekadar untuk menciptakan citra Merak lancar itu korbannya dipikul oleh para pengemudi truk yang nota bene orang kecil.

Kemacetan panjang juga terjadi di Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk, sampai 30 km. Tapi kemacetan di sini bisa dimaklumi karena penyebabnya tidak imbangnya jumlah kapal dengan dermaga. Jumlah kaopalk banyak, tapi dermaganya terbatas (empat dermaga saja). Kecuali itu, kualitas dermaga juga masih kurang karena masih menggunakan dermaga beaching alam. Jadi kemacetan di Ketapang – Gilimanuk faktor utamanya pada sarana yang masih terbatas.

Berbeda dengan kemacetan di Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk yang disebabkan oleh keterbatasan prasarana, kemacetan truk di BBJ lebih disebabkan oleh kekeliruan perencanaan dan manajemen. Jadi sama-sama macet tapi sumber kemacetannya berbeda, sehingga solusinya juga berbeda. Kemacertan di BBJ dapat diatasi secara cepat dengan membuat kebijakan yang fleksibel, sedangkan kemacetan di Ketapang – Gilimanuk dapat diatasi dalam jangka panjang dengan membangun dermaga baru yang lebih baik dan memperluas lahan parkir. Pembangunan dermaga baru dan lahan parkir yang luas amat diperlukan mengingat pembangunan Tol Transjawa sudah mendekati Banyuwangi. Dapat dipastikan, begitu Tol Transjawa telah mencapai Banyuwangi, maka arus kendaraan Jawa – Bali dan sebaliknya akan makin banyak, sehingga memerlukan dukungan prasarana dan sarana pelabuhan yang memadai.

Perencanaan angkutan mudik yang baik harusnya mempertimbangkan banyak aspek: kelancaran arus mudik, optimalisasi prasarana dan sarana, kelangsungan usaha operator, serta pergerakan ekonomi nasional. Kali ini tampaknya dasar pertimbangan perencanaannya hanya demi Merak lancar saja, tdk peduli dengan aspek-aspek lainnya, terlebih nasib operator angkutan (darat maupun penyeberangan) yang terus ditindas oleh kebijakan yang salah. Harapan para operator angkutan penyeberangan maupun barang untuk mendapatkan cuan saat arus mudik Lebaran cuma pepesan kosong saja, mereka hanya bisa ngiler saja, karena uang itu harusnya ada di depan mulut mereka tapi tidak bisa mereka tangkap.

 

Darmaningtyas, peneliti di INSTRAN (Institut Studi Transportasi) Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *