Na Willa Menghidupkan Lagi Petualangan Masa Kecil yang Hangat di Layar Lebar

Navaswara — Ada perasaan akrab yang langsung terasa saat menyaksikan Na Willa. Film ini membuka ruang kenangan masa kecil yang hangat dan menyenangkan lalu mengajak penonton melihat dunia melalui rasa ingin tahu seorang anak.

Libur Lebaran tahun ini akan diramaikan film keluarga terbaru dari Visinema Studios berjudul Na Willa. Disutradarai oleh Ryan Adriandhy, film berdurasi 118 menit ini membawa penonton menyusuri keseharian anak-anak dengan cara pandang yang jujur dan hangat. Cerita berangkat dari novel karya Reda Gaudiamo yang telah lama dikenal dalam sastra anak Indonesia.

Kisahnya mengikuti kehidupan Na Willa, anak perempuan berusia enam tahun yang tumbuh di sebuah gang di Surabaya pada era 1960-an. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas, penuh imajinasi serta selalu penasaran pada hal-hal kecil di sekelilingnya. Dunia sederhana seperti pasar, papan nama toko hingga anak ayam menjadi sumber petualangan yang terasa hidup.

Karakter Na Willa digambarkan sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu serta aktif belajar dari lingkungan di sekitarnya. Ia memiliki imajinasi besar yang membuat hal-hal kecil terasa menarik. Ceritanya juga memperlihatkan anak dapat tumbuh optimal berkat fondasi dan perhatian yang dibangun sejak dini oleh orang tua.

Latar waktu sebelum hadirnya gawai memberi ruang bagi cerita untuk bergerak melalui pengalaman yang sangat dekat dengan masa kanak-kanak. Penonton diajak menyaksikan bagaimana rasa ingin tahu, permainan serta persahabatan membentuk hari-hari Na Willa. Perspektif ini membuat cerita terasa ringan sekaligus hangat.

Persahabatan Na Willa dengan anggota Gank Krembangan memperkuat nuansa tersebut. Farida yang diperankan Freya Mikhayla, Dul yang dimainkan Azamy Syauki serta Bud yang diperankan Arsenio Rafisay hadir sebagai teman bermain yang setia. Interaksi mereka terasa polos dan tulus seperti pertemanan anak-anak pada masanya.

Film ini juga mempertahankan latar keluarga Na Willa yang beragam secara etnis. Ia tumbuh dari pasangan Mak yang diperankan Irma Novita Rihi asal Nusa Tenggara Timur dan Pak yang dimainkan Junior Liem berdarah Tionghoa. Kehidupan keluarga kecil ini menghadirkan gambaran keseharian yang hangat sekaligus akrab bagi banyak penonton.

Ryan Adriandhy mengatakan sejak membaca novel tersebut ia merasakan suara anak yang begitu kuat. “Ketika aku membaca bukunya, terasa seperti anak yang sedang bercerita langsung kepada kita. Bukan suara orang dewasa yang berpura-pura menjadi anak-anak. Itu yang ingin aku hadirkan di film ini,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Irene Umar selaku Wakil Menteri Ekonomi Kreatif yang hadir meyaksikan di Epicentrum XXI.  Ia menilai film anak seperti Na Willa memberi energi baru bagi perkembangan industri kreatif nasional. “Buat saya ini satu gebrakan lagi dari Cinema Go-Ahead Indonesia. Luar biasa,” ujarnya.

Produser Anggia Kharisma menyebut film ini sebagai persembahan khusus bagi keluarga Indonesia yang berkumpul saat Lebaran. “Semoga film ini bisa memeluk banyak orang dan menghangatkan suasana Lebaran,” ujarnya.

Bagi Irma Novita Rihi, karakter Mak memberi pengalaman emosional yang kuat. Ia melihat sosok ibu dalam cerita tersebut sebagai figur yang selalu berdiri di garis depan demi anaknya meski harus menjalani banyak hal sendirian.

Film Na Willa juga menghadirkan deretan pemain lain seperti Ira Wibowo, Melissa Karim serta Mbok Tun. Musik film digarap oleh trio Laleilmanino yang kembali dipercaya membuat lagu orisinal.

Film ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026 dan diharapkan menjadi tontonan keluarga yang menemani suasana libur Lebaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *