Navaswara.com – Pemandangan kunang-kunang yang menari di halaman rumah kini tinggal kenangan. Jika dulu serangga bercahaya ini menjadi teman bermain anak-anak di malam hari, sekarang keberadaannya nyaris punah dari lanskap perkotaan.
Anak-anak yang tumbuh di kota besar, nyaris tak punya referensi kunang-kunang sebagai hewan nyata yang dilihat mata, melainkan sekadar ilustrasi di buku cerita atau karakter dalam film animasi.
Kemunculan kunang-kunang memang makin jarang. Padahal, keluarga kumbang Lampyridae telah bertahan selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang menjadi sekitar 2.000 spesies di berbagai belahan dunia. Mereka melewati zaman dinosaurus, tetapi justru terdesak di era modern.
Pertanyaannya, apa yang membuat makhluk setangguh ini kini berada di posisi rentan?
Habitat yang Terus Menyusut
Sara Lewis, peneliti dari Xerces Society for Invertebrate Conservation, dalam laporan tahun 2019 menjelaskan bahwa penurunan populasi kunang-kunang terjadi akibat tekanan yang saling berkaitan. Hilangnya habitat menjadi pemicu utama.
Kunang-kunang membutuhkan lingkungan lembap dengan vegetasi alami. Larvanya hidup di tanah dan memangsa siput serta cacing. Ketika lahan basah dikeringkan, hutan dibuka, dan tepian sungai berubah menjadi area monokultur, ruang hidup mereka ikut menghilang.
Kondisi ini terlihat jelas di Asia Tenggara. Laporan The Guardian mencatat spesies dari genus Pteroptyx mengalami penurunan drastis akibat alih fungsi lahan di sepanjang sungai untuk perkebunan kelapa sawit. Spesies ini dikenal karena kilau cahayanya yang serempak dan pernah menjadi daya tarik alami kawasan tersebut.

Polusi Cahaya, Pestisida, dan Iklim
Ancaman lain datang dari sesuatu yang kerap dianggap remeh yakni cahaya buatan. Kunang-kunang mengandalkan pola kilatan cahaya untuk berkomunikasi dan berkembang biak. Jantan mengirim sinyal, betina merespons dari rerumputan.
Ketika malam tak lagi benar-benar gelap, sistem ini terganggu. Lampu jalan, papan iklan, dan cahaya bangunan menciptakan latar terang yang menenggelamkan sinyal kunang-kunang. Akibatnya, proses kawin gagal terjadi dan populasi sulit pulih.
Pestisida menjadi tekanan berikutnya. Larva kunang-kunang menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga dua tahun, di dalam tanah. Pada fase ini, mereka sangat rentan terhadap bahan kimia pertanian.
Ironisnya, larva kunang-kunang justru memangsa hama taman seperti siput. Namun racun yang ditujukan untuk serangga pengganggu tidak membedakan sasaran, dan kunang-kunang ikut tereliminasi sebelum sempat tumbuh dewasa.
Perubahan iklim menambah beban. Siklus hidup kunang-kunang bergantung pada pola musim yang relatif stabil. Perubahan suhu dan curah hujan yang sulit diprediksi memengaruhi waktu kawin, bertelur, hingga tingkat kelangsungan hidup.
Beberapa spesies sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada suhu dan kelembapan. Gangguan ringan saja bisa berdampak panjang pada populasinya.
Upaya yang Mulai Tumbuh
Meski situasinya serius, upaya perlindungan mulai bermunculan. Di sejumlah negara, masyarakat diajak menciptakan lingkungan ramah kunang-kunang dengan mengurangi pestisida, membiarkan vegetasi tumbuh alami, serta membatasi penggunaan lampu luar ruangan.
Program ilmuwan warga juga berkembang, melibatkan publik dalam pencatatan kemunculan kunang-kunang. Data ini membantu peneliti memahami kondisi populasi secara lebih luas.
Di Malaysia dan Thailand, ekowisata berbasis konservasi kunang-kunang menunjukkan bahwa perlindungan habitat bisa berjalan seiring dengan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Keberadaan kunang-kunang berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan. Mereka hanya bertahan di wilayah dengan tanah lembap, vegetasi alami, dan malam yang relatif gelap. Ketika kunang-kunang menghilang dari suatu kawasan, biasanya perubahan besar sudah lebih dulu terjadi pada habitat, pencahayaan, dan penggunaan lahan.
Populasi kunang-kunang masih bisa dipulihkan, tetapi waktunya tidak panjang. Perlindungan lahan basah, pembatasan cahaya buatan di malam hari, dan pengurangan pestisida menjadi langkah yang menentukan. Tanpa perubahan nyata pada cara manusia mengelola ruang hidup bersama, kilau yang dulu akrab di halaman rumah akan terus menjauh dari kehidupan sehari-hari.
