Batik Chic Eksplorasi Megamendung di Perayaan Imlek Bersama Facade

Navaswara.com – Warna merah kerap menjadi penanda visual setiap perayaan Imlek, hadir nyaris tanpa kompromi dari busana hingga dekorasi. Namun musim ini, palet itu mulai bergeser. Sentuhan pink lembut muncul sebagai tafsir baru yang terasa lebih hangat dan personal, membuka ruang bagi ekspresi yang berbeda tanpa meninggalkan makna.

Kolaborasi tahunan Facade dan Batik Chic kembali hadir menjelang Tahun Baru Imlek dengan pendekatan yang terasa lebih segar. Bertempat di Pelataran Menteng yang sarat nuansa heritage, keduanya memperkenalkan koleksi terbaru bertajuk “Peony: Love and Prosperity”, kali ini dengan keberanian keluar dari dominasi merah yang lazim hadir di musim perayaan. Megamendung khas Cirebon diolah dalam spektrum pink dan warna-warna pesisiran yang kontras, memberi kesan hangat sekaligus modern, selaras dengan momen Imlek yang berdekatan dengan Valentine.

Founder Facade, Listia Prajoga, menyebut tema tersebut lahir dari pertemuan makna musim dan emosi. Menurutnya, perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan datangnya musim semi, saat bunga peony mekar sebagai simbol kemakmuran. Di sisi lain, kedekatan waktunya dengan Hari Kasih Sayang memberi ruang untuk menghadirkan nuansa cinta yang lebih lembut.

“Ada unsur prosperity dan love yang kami satukan. Saya juga sempat ‘titip pesan’ supaya koleksi kali ini tidak terlalu merah, tapi lebih banyak warna pink yang manis,” ujar Listya.

Tantangan itu diterjemahkan Batik Chic lewat eksplorasi motif Megamendung yang memiliki jejak akulturasi budaya Tionghoa. Novita Yunus, founder Batik Chic, menjelaskan bahwa karakter batik pesisiran justru terletak pada keberanian memadukan warna-warna yang tak terduga. “Megamendung itu awan berarak, pengaruhnya kuat dari Cina. Karena ini batik pesisiran, warnanya bisa sangat berani, seperti lime bertemu pink. Kadang terlihat aneh di awal, tapi hasil akhirnya justru cantik,” ungkap Novi.

Suasana peragaan terasa semakin hidup dengan penampilan Rieka Roeslan yang membawakan beberapa lagu tema kebaya. Suara khasnya mengalun di tengah ruang bersejarah, memberi sentuhan personal yang membuat presentasi koleksi terasa lebih dekat dan emosional, tanpa kehilangan kesan elegan.

Tak hanya busana, pengalaman acara juga dibangun lewat detail pendukung. Dekorasi dari Java Chic by Viviane Faye, perhiasan Manjusha, serta tata rias Puspita Martha membingkai keseluruhan suasana dengan estetika yang rapi dan berkarakter. Sistem see now, buy now memberi kesempatan para tamu untuk langsung memiliki koleksi yang ditampilkan model di area, cukup dengan memotret, menandai di media sosial, dan membawanya pulang hari itu juga.

Dari sisi tempat, Plataran Menteng kembali menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan budaya. Dewi Makes, co-founder Plataran Indonesia, menyampaikan kebanggaannya bisa terus mendukung pelestarian bangunan bersejarah. Ia juga memperkenalkan Rumah Heritage Jakarta di Sam Ratulangi 46 yang dapat dikunjungi dengan fasilitas shuttle dari lokasi acara. “Kami ingin Plataran Menteng tetap dikenang sebagai bangunan heritage yang terjaga dan hidup,” tuturnya.

Di luar koleksi Imlek dan Valentine, Batik Chic sudah menyiapkan langkah lanjutan yang lebih panjang. Novita Yunus mengungkapkan bahwa brand ini mulai membidik sejumlah agenda internasional, meski pasar domestik masih menjadi fokus utama tahun ini. “Tahun ini Batik Chic masih fokus di Indonesia, tapi ada beberapa event internasional yang akan kita ikuti, kemungkinan di Asia dan juga Amerika Latin,” ujarnya saat memaparkan rencana pengembangan brand.

Rangkaian koleksi pun berlanjut ke tema modesty menyambut bulan suci yang tengah disiapkan untuk Ramadan. Koleksi ini akan membawa nuansa budaya dengan gaya modest yang lebih santun dan relevan untuk keseharian. “Sebentar lagi kita juga akan ada koleksi Ramadan. Koleksinya akan mengedepankan nuansa budaya dan gaya modest muslim, yang rencananya akan kita rilis di awal Ramadan,” kata Novi.

Upaya tersebut menegaskan posisi Batik Chic dalam menjaga relevansi batik di tengah perubahan selera. Novita melihat batik sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan semata busana untuk momen tertentu. “Harapannya Batik Chic tetap bisa menjadi pilihan utama untuk trendsetter di Indonesia dan menjadi lifestyle. Semoga konsumen Indonesia terus menghargai karya-karya lokal kita,” ujarnya, menutup wawancara dengan optimisme yang tenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *