Survei Ungkap Banyak Orang Andalkan AI Sebagai Teman Bicara Saat Kesepian

Navaswara.com – Bukan rahasia lagi bahwa bagi banyak orang, kecerdasan buatan tidak lagi sekadar mesin pencari atau asisten digital. Dalam situasi tertentu, AI mulai diperlakukan sebagai lawan bicara, terutama ketika perasaan sedang tidak stabil dan ruang aman untuk bercerita terasa terbatas.

Survei terbaru Kaspersky menunjukkan perubahan menarik dalam cara masyarakat memanfaatkan kecerdasan buatan selama musim liburan akhir tahun. AI tidak lagi hanya dipakai untuk urusan praktis seperti mencari rekomendasi atau menyusun rencana, tetapi mulai hadir sebagai teman berbincang ketika seseorang merasa sedih atau tidak nyaman secara emosional.

Dalam survei yang dilakukan menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, lebih dari 30 persen responden di Indonesia mengaku memilih berinteraksi dengan AI saat berada dalam kondisi emosional yang kurang baik. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 29 persen. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi semakin masuk ke ruang personal, terutama di kalangan generasi muda.

Secara umum, penggunaan AI selama liburan tergolong tinggi. Sebanyak 74 persen responden menyatakan berencana memanfaatkan AI untuk mendukung aktivitas liburan mereka. Antusiasme paling besar datang dari kelompok usia 18 hingga 34 tahun, dengan 86 persen responden di rentang usia ini menyebut akan menggunakan AI selama masa liburan.

Fungsi AI paling umum masih berkaitan dengan kebutuhan praktis. Lebih dari separuh pengguna memanfaatkan AI untuk mencari resep makanan serta rekomendasi restoran dan akomodasi. Separuh responden lainnya menggunakan AI sebagai sumber ide, mulai dari memilih hadiah, merancang perayaan Natal dan Tahun Baru, hingga menentukan cara mengisi waktu luang.

AI juga mulai diposisikan sebagai asisten belanja. Sekitar 50 persen responden menggunakannya untuk membuat daftar belanja, membandingkan penawaran, atau membaca ulasan produk. Generasi muda menunjukkan minat tinggi pada AI sebagai alat perencana anggaran, sementara kelompok usia di atas 55 tahun cenderung memanfaatkannya untuk mencari resep dan ide hadiah.

Di balik kemudahan tersebut, Kaspersky mengingatkan adanya risiko keamanan data yang perlu diperhatikan. Informasi yang dihasilkan chatbot tidak selalu dapat diandalkan, termasuk tautan yang berpotensi mengarah ke konten berbahaya atau phishing. Karena itu, pengguna disarankan untuk selalu memeriksa ulang setiap rekomendasi yang diberikan AI sebelum menindaklanjutinya.

Peran AI sebagai pendamping emosional menjadi temuan lain yang mencolok. Di Indonesia, 31 persen responden mempertimbangkan untuk berbicara dengan AI saat merasa sedih. Minat ini paling tinggi terlihat pada Generasi Z dan milenial, sementara kelompok usia lebih tua menunjukkan kecenderungan yang jauh lebih rendah.

“Seiring berkembangnya model bahasa berskala besar, kemampuan AI untuk terlibat dalam dialog yang terasa bermakna juga meningkat. Namun, penting untuk diingat bahwa AI belajar dari data dan tetap berpotensi mengulang bias atau kesalahan yang ada,” ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.

Kaspersky menekankan pentingnya sikap waspada dalam berinteraksi dengan AI, terutama saat percakapan menyentuh wilayah personal. Pengguna disarankan memahami kebijakan privasi, membatasi pembagian informasi sensitif, serta memilih layanan AI dari penyedia yang memiliki rekam jejak keamanan yang jelas. Di tengah meningkatnya ketergantungan pada teknologi, kesadaran digital menjadi kunci untuk menjaga ruang pribadi tetap aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *