Potret Alam Nusantara Terbaik Tahun Ini, YKAN Umumkan Deretan Pemenang

Navaswara.com – Ekosistem di banyak wilayah Indonesia menghadapi tekanan yang makin nyata, dari perubahan bentang alam sampai ruang hidup satwa yang terus menyempit. Situasi ini menjadi latar lahirnya ribuan karya dalam Kontes Foto dan Video Suara Alam Nusantara yang diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara. Tahun ini, beragam perspektif yang masuk tidak hanya menampilkan keelokan alam, tetapi juga cara masyarakat menangkap perubahan ekologis melalui bahasa visual. Pengumuman pemenang digelar di Jakarta bertepatan dengan Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia,

Anggota Dewan Pengawas YKAN Jimmi Chayadi menegaskan bahwa ajang ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menjaga lingkungan. IA menyampaikan bahwa acara ini ingin mengajak masyarakat melihat kembali kekayaan alam Indonesia melalui karya visual yang jujur. Ia menuturkan bahwa hubungan manusia dengan alam kerap memudar, dan kompetisi ini berfungsi sebagai pengingat. “Kadang kita lupa betapa dekatnya alam dengan kehidupan sehari-hari kita. Lewat karya para peserta, kami berharap ada rasa terhubung yang muncul kembali,” ujarnya.

Direktur Komunikasi YKAN, Priscilla Christy, menegaskan bahwa kompetisi ini bukan program sekali jalan. Menurutnya, YKAN sudah rutin menggelar lomba foto bertema konservasi dan melihat adanya manfaat besar dari partisipasi publik. “Setiap tahun selalu ada cerita baru tentang bagaimana peserta memandang lanskap dan kehidupan liar kita. Itu yang membuat kami terus mengadakannya. Foto dan video bisa memberi kesadaran yang tidak selalu bisa disampaikan lewat data,” tuturnya.

Jumlah karya yang masuk membuat proses penjurian berjalan lebih rumit. Tahun ini, lebih dari dua ribu foto dari berbagai wilayah hadir dengan ragam tema mulai dari lanskap, satwa, sampai potret masyarakat adat. Keragaman tersebut membuat para juri bekerja lebih cermat karena setiap foto membawa pesan dan karakter visual yang berbeda.

Fotografer senior alam liar yang ditunjuk sebagai kurator khusus, Riza Marlon atau Mas Caca, menerapkan standar ketat dalam proses penilaian. Ia menolak foto yang mengandung unsur penyiksaan satwa maupun karya rekayasa studio yang kerap dibuat bounty hunter demi tampilan estetik.

“Banyak sekali, istilahnya tanda kutip bounty hunter. Mereka memonitor lalu membuat foto dengan segala cara agar cantik dan dramatis, padahal itu menyiksa. Itu yang kami hindari,” tegasnya. Ia mengatakan beberapa foto bahkan langsung didiskualifikasi karena tidak masuk akal secara biologi. Menurutnya, keaslian, kekuatan pesan, dan kedalaman visual penting agar kekayaan biodiversitas Indonesia dapat terlihat apa adanya.

Dalam proses penjurian, fotografer profesional Marrysa Tunjung Sari menyebut diskusi berlangsung panjang karena setiap karya membawa bobot pesan yang berbeda. “Penilaian tidak hanya melihat visual, tetapi juga apakah foto mampu menyuarakan alam dan biodiversitas,” ujarnya.

Juri lain, aktor sekaligus pegiat alam Ramon Tungka, mengingatkan pentingnya etika ketika memotret masyarakat adat. Ia menilai proses pengambilan gambar tidak bisa dilakukan secara instan. “Untuk memotret satu orang saja, saya membiasakan diri mungkin bisa tiga minggu di tempat itu. Ada pendekatan, ada ngobrol,” katanya. Ramon menyoroti kebiasaan sejumlah content creator yang datang hanya demi mendapatkan materi visual tanpa memberi manfaat bagi komunitas adat. Ia menegaskan bahwa pemotretan adalah ritus sosial yang membutuhkan penghormatan penuh. “Kita semua adalah manusia adat, dan masyarakat adat seharusnya dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan,” ucapnya.

Sementara itu, musisi Monita Tahalea mengaku menerima tawaran menjadi juri karena alam selalu menjadi sumber ilham dalam bermusik. Ia mengatakan banyak liriknya tumbuh dari hal-hal yang ia lihat di hutan, laut, atau gunung. Dalam proses penjurian, ia melihat seberapa besar rasa menghargai lingkungan tercermin dalam satu frame foto. Monita menyebut salah satu karya yang meninggalkan kesan mendalam adalah foto tukik yang kembali ke laut. “Alam ini membuka hati. Kita cuma bagian dari alam, bukan pemiliknya. Jadi selayaknyalah kita sayangin supaya panjang umurnya,” ujarnya.

 

Kontes ini menghasilkan delapan pemenang foto dari kategori Lanskap Laut, Makhluk Laut, Lanskap Drone, Lanskap Non-Drone, Tumbuhan dan Jamur Liar, Satwa Liar, Burung, serta Masyarakat Adat Indonesia. Untuk kategori video, dipilih dua pemenang dari kategori Lanskap dan Potret, serta satu pemenang Favorit TikTok berdasarkan interaksi publik.

Kompetisi Suara Alam Nusantara menjadi kelanjutan upaya Yayasan Konservasi Alam Nusantara untuk mengenalkan kekayaan alam Indonesia lewat medium yang dapat dinikmati banyak orang. Setelah merilis rekaman suara dari Papua, Wakatobi, hingga Kalimantan yang kini tersedia di Spotify, tahun ini giliran karya foto dan video yang diharapkan memperkuat ajakan menjaga lingkungan bagi generasi berikutnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by YKAN (@ykan_id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *