Resep Storytelling Raffi Ahmad Bangun Chemistry Anak dan Orang Tua di Festival Suara Nusantara 2025

Navaswara.com – Kemajuan teknologi digital telah mengubah drastis lanskap kehidupan keluarga. Gawai kini tak lagi eksklusif milik orang dewasa, tetapi telah merangsek ke keseharian anak-anak, bahkan di usia dini. Perangkat digital menjadi bagian tak terelakkan dalam pola tumbuh kembang mereka, yang ironisnya, menghadirkan tantangan signifikan bagi orang tua dalam membangun koneksi emosional yang solid dengan buah hati.

Melawan dominasi layar yang merenggut atensi dan desakan modernitas yang tak terbendung, Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, menawarkan resep yang terkesan sederhana namun fundamental: seni bercerita atau storytelling.

Bagi Raffi, storytelling adalah kunci untuk membentuk chemistry yang kuat dan alami dalam ikatan keluarga. “Keluarga itu adalah nomor satu. Kalau kita orang tua bisa saling menceritakan atau ‘storytelling’ apa pun itu, Insya Allah chemistry (koneksi emosional dan fisik yang kuat dan alami antara dua orang) anak dan orang tua akan bagus,” kata Raffi.

Pernyataan tersebut ia sampaikan di sela-sela gelaran Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara 2025” yang dihelat di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, kemarin. Sebuah perhelatan akbar yang memang menandai kebangkitan kembali tradisi mendongeng sebagai jembatan emas menuju pelestarian warisan budaya Indonesia.

Mendongeng di Era Digital

Storytelling, yang merupakan kegiatan menyampaikan sebuah kisah untuk menghibur, mendidik, atau menginspirasi, diakui Raffi sebagai praktik yang ia terapkan sehari-hari di rumah. Ia bahkan menyandingkan pentingnya praktik ini dengan fase tumbuh kembang anak-anaknya sendiri, Rafathar dan Rayyanza.

“Sekarang kan Rayyanza yang sedang umurnya sudah lebih banyak nanya, banyak mau tahu. Kalau Rafathar dulu juga sama. Jadi setiap tidur itu kita bisa bercerita lewat buku, cerita dari YouTube,” ungkap figur publik yang kerap disorot tersebut, merujuk pada kebiasaan yang ia terapkan.

Lebih dari penghantar tidur semata, storytelling adalah medium ampuh untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Raffi menyoroti betapa kayanya Indonesia akan kisah-kisah legenda. Ia bahkan secara spesifik menyampaikan apresiasi kepada gelaran Suara Nusantara 2025. “Saya juga berterima kasih sama Mbak Cahaya (Manthovani) karena ceritanya banyak, yang storytelling-nya tentang cerita-cerita legenda-legenda dari Indonesia,” ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan narasi-narasi agung yang diangkat festival tersebut. “Ada yang cerita tadi Si Pitung, ada yang cerita tadi Malin Kundang, ada yang cerita dari Papua,” jelasnya.

Narasi-narasi ini, menurutnya, adalah materi terbaik untuk disampaikan kepada buah hati. “Ini bagus sekali supaya anak-anak bangsa kita, generasi-generasi selanjutnya, tidak terhilangkan nilai-nilai cerita-cerita budaya dari daerah Indonesia,” tegasnya.

Raffi tidak menampik bahwa di era banjir konten, storytelling tradisional mungkin terasa kurang kompetitif dibandingkan dengan platform media sosial dan YouTube. Namun, ia menegaskan perlunya adaptasi, bukan penolakan.

“Yang penting, orang tua bisa beradaptasi mengajarkan sesuai pada zamannya, tapi kita jangan lupa untuk terus mendampingi dan membimbing anak kita,” sarannya.

Festival Suara Nusantara sendiri hadir sebagai upaya kolektif untuk menghidupkan kembali kekayaan cerita rakyat tersebut. Lewat ajang mendongeng ini, anak-anak diajak menyelami kisah-kisah bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta yang mendalam pada warisan budaya yang tak ternilai harganya. Pesan Raffi Ahmad jelas: koneksi keluarga yang kokoh dan pelestarian budaya dapat dicapai melalui satu cara paling purba dan autentik, yaitu seni bertutur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *