Shingo Ōta ‘Jadi’ Geisha, Riset Mendalam Demi Kisah yang Nyaris Punah

Navaswara.com – Komunitas Salihara Arts Center kembali menegaskan perannya sebagai ruang dialog budaya lewat pementasan teater internasional di bulan November. Kali ini, sebuah perenungan mendalam tentang ikon budaya Jepang yang kian tergerus zaman naik ke panggung.

Pertunjukan berjudul “The Last Geishas: Re-Creation” karya sutradara dan pembuat film Shingo Ōta, bersama aktris Kyoko Takenaka (Jepang), dipentaskan di Teater Salihara pada 15–16 November 2025. Karya hibrida ini berangkat dari observasi kritis terhadap geisha, sosok yang selama berabad-abad menjadi simbol citra ideal sekaligus objek fantasi Jepang di mata dunia.

Alih-alih mengulang stereotip, Ōta dan Takenaka justru menelusuri realitas profesi yang kian langka ini. “The Last Geishas: Re-Creation” berupaya melampaui pandangan eksotis, menggali disiplin ketat, kehalusan seni, dan tirai kerahasiaan yang mewarnai tradisi yang diyakini telah ada sejak abad ke-17 tersebut.

Melalui panggung, keduanya mengajukan pertanyaan mendasar: Bagaimana seharusnya kita mendefinisikan geisha? Apakah mereka kini semata komoditas wisata, atau penjaga seni tradisional yang memelihara warisan budaya berusia ratusan tahun?

Proses penciptaan karya ini dirancang secara imersif. Ōta dan Takenaka tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik, mulai dari menghadiri kelas, berlatih tari tradisional, mengenakan kimono, hingga berpartisipasi dalam jamuan resmi. Pengalaman empiris tersebut menjadi fondasi interpretasi mereka.

Kesaksian dan pengalaman itu kemudian diramu menjadi pertunjukan teater dokumenter kontemporer. Di atas panggung, perpaduan antara gerak, teks, dan video sinematik menghasilkan karya hibrida yang mempertemukan rekonstruksi tradisi dengan eksplorasi kekinian, sebuah persimpangan antara teater dan dokumenter yang mempertanyakan bagaimana praktik adiluhung dapat diwariskan di tengah perubahan global.

Gagasan awal karya ini, menurut catatan proses Shingo Ōta, berakar dari kesaksian seorang mantan maiko (geisha magang) tentang kerasnya dunia tersebut. Kesaksian itu mendorongnya melakukan penelusuran mendalam, yang akhirnya mempertemukannya dengan Hidemi, geisha terakhir di daerah Kinosaki.

Ōta kemudian memutuskan melatih dirinya sebagai geisha magang, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai medium dokumentasi dan refleksi. Ia meyakini bahwa keindahan sejati tidak terletak pada model, bentuk, atau profesi, melainkan pada cara manusia menjalani hidup.

Proyek ini diproduksi oleh Hydroblast, kolektif seni yang didirikan Ōta pada 2019 dan dikenal dengan pendekatan dokumenter dalam film dan teater.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *