Navaswara.com — Bagi anak, ejekan dari teman sebaya bisa menjadi salah satu pengalaman yang mungkin terjadi ketika berinteraksi di lingkungan sekolah maupun tempat bermain.
Meski terkadang dianggap sebagai candaan biasa, perkataan yang merendahkan tentu dapat melukai perasaan anak, menurunkan kepercayaan diri, bahkan membuat anak merasa tidak berharga.
Sebagai orang tua, melindungi anak bukan berarti menjauhkannya dari setiap situasi yang tidak menyenangkan. Justru, kita perlu mengajarkan bagaimana cara merespons perlakuan tersebut agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara emosional.
Validasi Perasaan dan Ajarkan Anak Memahami Ejekan
Ketika anak bercerita tentang pengalaman diejek, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mendengarkan dan mengakui perasaannya.
Hindari menganggap remeh dengan mengatakan bahwa ejekan tersebut hanya bercanda atau meminta anak untuk tidak terlalu memikirkannya. Sebaliknya, tunjukkanlah empati agar anak merasa aman untuk menceritakan apa yang dialami di luar rumah.
Selain itu, kita juga perlu membantu anak memahami bahwa perkataan orang lain tidak selalu menggambarkan kualitas dirinya. Ajarkan mereka membedakan candaan yang menyenangkan dengan ejekan yang bertujuan mempermalukan dirinya.
Ajarkan Respons Tegas Tanpa Harus Membalas
Anak tidak perlu membalas ejekan dengan perkataan yang sama menyakitkannya. Kita bisa melatih anak memberikan batasan, seperti mengatakan, “Aku tidak suka kamu bicara seperti itu,” atau mengabaikan perkataan temannya dan pergi dari situasi yang tidak nyaman.
Tak hanya itu, mengenali hal-hal yang membuat anak mudah tersinggung juga penting. Dengan begitu, anak dapat belajar mengelola emosi dan tidak langsung menganggap setiap komentar sebagai kebenaran tentang dirinya.
Bangun Kepercayaan Diri dari Rumah
Kepercayaan diri menjadi bekal yang sangat penting agar anak tidak mudah minder ketika menerima komentar negatif. Kita bisa mendukung minat dan bakat anak, memberikan apresiasi atas usahanya, serta membantunya membangun pertemanan yang sehat.
Selain itu, lingkungan keluarga perlu menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Hindari kebiasaan mengejek kekurangan atau menggunakan sarkasme yang merendahkan.

