Navaswara.com – Belanja impulsif sering terjadi karena proses pembayaran terasa terlalu mudah. Semakin mudah proses pembayaran, semakin besar pula peluang seseorang berbelanja secara impulsif. Dalam konsep keuangan perilaku, dibutuhkan kondisi yang dikenal sebagai financial friction, yaitu menciptakan jeda atau hambatan sebelum uang keluar agar setiap keputusan belanja dipertimbangkan dengan lebih matang.
Menariknya, sejumlah kebiasaan yang sudah lama diterapkan masyarakat Jepang mencerminkan prinsip tersebut. Mulai dari mencatat pengeluaran dengan tangan hingga membiasakan diri menunda pembelian, cara-cara ini membantu mengurangi pengeluaran yang tidak perlu sekaligus membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Berikut lima kebiasaan frugal living ala orang Jepang yang bisa dicoba.
1. Mencatat pengeluaran dengan metode Kakeibo
Kakeibo merupakan metode pengelolaan keuangan yang diperkenalkan lebih dari satu abad lalu oleh jurnalis perempuan Jepang, Hani Motoko.
Berbeda dengan aplikasi pencatat keuangan yang bekerja otomatis, Kakeibo mengharuskan pengguna menulis setiap transaksi secara manual ke dalam empat kategori, yaitu kebutuhan, keinginan, budaya seperti buku atau hiburan, serta pengeluaran tak terduga.
Kebiasaan menulis ini menciptakan jeda sebelum seseorang benar-benar menganggap uangnya telah digunakan. Proses tersebut membuat setiap pengeluaran terasa lebih nyata sehingga membantu mengevaluasi pola belanja dari waktu ke waktu.
2. Lebih sering membayar dengan uang tunai
Di Jepang, sebagian orang masih mempertahankan kebiasaan membayar menggunakan uang tunai atau genkin shugi.
Saat membayar tunai, seseorang melihat langsung uang berpindah dari dompet ke tangan penjual. Pengalaman ini membuat pengeluaran terasa lebih nyata dibandingkan ketika cukup menempelkan kartu atau memindai kode QR.
Kesadaran tersebut dapat membantu mengurangi pembelian spontan karena setiap transaksi terasa memiliki konsekuensi yang lebih jelas terhadap kondisi keuangan.
3. Memberi jeda sebelum membeli barang
Kebiasaan lain yang cukup umum adalah tidak langsung membeli barang yang diinginkan.
Saat menemukan produk menarik, barang tersebut dimasukkan lebih dulu ke dalam daftar keinginan. Setelah itu, pembelian ditunda selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Jika setelah masa tunggu berakhir barang tersebut masih dianggap penting, pembelian baru dilakukan. Sebaliknya, apabila keinginan mulai hilang, uang yang semula akan dibelanjakan dapat dialihkan untuk kebutuhan lain atau tabungan.
4. Menabung terlebih dahulu sebelum membeli
Masyarakat Jepang juga dikenal berhati-hati terhadap utang konsumtif. Banyak orang memilih menabung hingga dana mencukupi sebelum membeli barang bernilai besar.
Cara ini membuat keputusan pembelian memerlukan persiapan lebih panjang, sehingga peluang membeli barang hanya karena dorongan sesaat menjadi lebih kecil.
Prinsip tersebut sekaligus membantu menghindari beban cicilan yang dapat mengganggu kondisi keuangan pada masa mendatang.
5. Bertanya pada diri sendiri sebelum berbelanja
Sebelum membeli sesuatu, banyak orang Jepang menerapkan prinsip mottainai, yaitu rasa sayang ketika sesuatu yang masih memiliki nilai atau manfaat terbuang sia-sia.
Prinsip ini mendorong seseorang bertanya lebih dulu, “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?” sebelum melakukan transaksi.
Apabila barang lama masih berfungsi dengan baik, pilihan yang diambil biasanya memperbaiki, menggunakan kembali, atau mendaur ulang, bukan langsung membeli pengganti. Bersama filosofi hodo-hodo yang mengajarkan hidup secukupnya, kebiasaan tersebut membantu menekan pemborosan, menjaga kondisi keuangan tetap stabil, sekaligus mengurangi limbah dan penggunaan sumber daya.

