Filosofi Makan Bersama di Nusantara, Merawat Kebersamaan Lewat Kuliner

Navaswara.com — Di atas selembar daun pisang yang digelar di halaman rumah atau mengelilingi dulang kuningan yang dibawa ke tengah ruangan, masyarakat Indonesia memiliki tradisi makan bersama yang sudah diwariskan turun-temurun. Bagi banyak orang Indonesia, makan bukan hanya untuk mengenyangkan perut. Momen ini juga menjadi waktu untuk berkumpul, berbincang, dan mempererat hubungan dengan keluarga maupun sesama.

Dalam antropologi pangan, tradisi tersebut dikenal sebagai komensalitas. Istilah yang diperkenalkan sosiolog Claude Fischler ini menggambarkan kebiasaan berbagi makanan dan makan bersama sebagai cara membangun kedekatan antarmanusia. Berbagi hidangan dari wadah yang sama mampu menumbuhkan rasa kebersamaan yang sering kali sulit tergantikan oleh percakapan biasa.

Di berbagai daerah di Indonesia, komensalitas hadir dalam beragam bentuk, nama, dan tata cara. Meski tradisinya berbeda-beda, semuanya menyimpan nilai yang sama, yakni menguatkan kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga ikatan antarsesama.

Pertama, megibung dari Karangasem, Bali, yang diperkenalkan Raja I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1692 Masehi saat ekspedisi militer di Lombok. Dalam praktiknya, kelompok makan yang disebut sela duduk melingkar menyantap nasi (gibungan) dan lauk (karangan) dari satu wadah. Tradisi ini menghapus sekat kasta, merangkul perbedaan agama seperti adaptasi menu halal oleh muslim Bali di Kepaon, serta menerapkan etika solidaritas untuk tidak meninggalkan lingkaran sebelum semua selesai makan.

Kedua, makan bajamba dari Sumatera Barat yang tumbuh dari sistem sosial Minangkabau berlandaskan musyawarah dan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Bajamba disajikan dalam dulang besar pada perayaan adat atau hari besar keagamaan. Meskipun posisi duduk tetap menghormati struktur adat seperti ninik mamak, semua peserta memulai dan mengakhiri makan secara serentak. Tradisi ini mempererat sistem kekerabatan matrilineal, namun riset dari Journal of Responsible Tourism mencatat adanya potensi pengikisan nilai akibat pergeseran ke sistem prasmanan yang dianggap lebih praktis.

Ketiga, botram dan bancakan di tanah Sunda yang mengedepankan kesederhanaan. Botram lahir dari kultur agraris di mana setiap orang membawa bekal sendiri untuk dinikmati bersama di atas hamparan daun pisang. Sebaliknya, bancakan disajikan oleh tuan rumah sebagai wujud syukur dalam acara selamatan. Di sini, perbedaan kelas sosial melebur dan membicarakan masalah berat dianggap tabu demi menjaga suasana kebersamaan.

Keempat, slametan dan tumpeng di Jawa yang memiliki dimensi kosmologis. Menurut sosiolog Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960), slametan bertujuan memohon keselamatan. Hidangan utamanya adalah tumpeng yang berbentuk kerucut sebagai simbol hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, sementara lauk pauk di sekitarnya melambangkan hubungan horizontal antarsesama. Berbeda dengan megibung, slametan mempertahankan hierarki sosial secara simbolis melalui pemotongan puncak tumpeng yang diberikan kepada sosok yang dituakan sebelum sisanya dibagikan ke seluruh hadirin.

Yang membuat tradisi makan bersama di Nusantara begitu kaya adalah cara setiap daerah memaknai kebersamaan melalui budayanya sendiri.

Kini, tradisi makan bersama menghadapi perubahan seiring berkembangnya gaya hidup modern yang semakin praktis. Meski demikian, berbagai daerah terus menjaga warisan ini melalui festival budaya, kegiatan komunitas, hingga pengembangan wisata. Sejumlah restoran juga menghadirkannya sebagai pengalaman bersantap bersama. Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa tradisi makan bersama tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat. Sebab, sejak awal wadah-wadah itu memang dibuat untuk dinikmati ramai-ramai, sekaligus mengingatkan bahwa kebersamaan selalu menjadi bagian penting dari budaya makan di Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *