Navaswara.com – Kisah Nyi Rengganis dan Taman Banjarsari merupakan salah satu cerita rakyat asal Jawa Barat yang mengandung pesan tentang kesederhanaan dan sebab akibat dari keserakahan manusia.
Kisah ini terjadi di sebuah kerajaan bernama Kerajaan Djamin di Parahiyangan. Kala itu, lahir seorang bayi perempuan berparas cantik jelita yang diberi nama Nyi Retna Dewi Rengganis.
Sayangnya, kelahiran bayi mungil ini turut membawa duka mendalam bagi raja karena sang permaisuri wafat saat melahirkan putri mereka. Kesedihan yang terus membayangi membuat raja memutuskan untuk memberikan takhta kepada kerabatnya demi menjadi seorang petapa.
Raja pun membawa Rengganis yang masih bayi masuk ke dalam hutan belantara. Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka akhirnya menetap di kaki Gunung Argopura. Setelahnya, sang raja dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Raja Pandita.
Waktu pun berlalu hingga Rengganis tumbuh menjadi gadis remaja yang berbakti dan telaten merawat ayahnya. Demi melindungi keselamatan putrinya, Raja Pandita membekali Rengganis dengan ilmu meringankan tubuh yang membuatnya bisa terbang dengan mudah.
Suatu hari, saat menjelajah bersama seekor lebah yang menjadi temannya, Rengganis menemukan sebuah tempat tersembunyi bernama Taman Banjarsari.
Taman tersebut dipenuhi bunga-bunga langka yang sangat indah dan begitu wangi, seperti sumarsana, ergulo, naga-puspita, dan tunjung-tutur. Terpikat oleh keindahannya, Rengganis memetik beberapa tangkai untuk menghias petapaan ayahnya.
Raja Pandita yang mengenali asal-usul bunga bangsawan itu segera memperingatkan Rengganis agar menjauhi taman tersebut karena tempat itu milik Iman Suwangsa, seorang putra raja yang terkenal manja, angkuh, dan berwatak keras kepala.
Di sisi lain, Rengganis memiliki pendapat bahwa keindahan alam seharusnya menjadi milik bersama. Didorong keinginan untuk berbagi kebahagiaan, Rengganis mengabaikan larangan ayahnya dan kembali ke Taman Banjarsari. Ia ingin mencabut beberapa tanaman bunga untuk dipindahkan ke wilayah pegunungan.
Namun, kedatangannya kali ini diketahui oleh Iman Suwangsa dan para prajuritnya yang segera mengepung dan menjebaknya dengan jaring perangkap. Meskipun Rengganis telah meminta maaf dan menjelaskan niat baiknya, Iman Suwangsa yang bengis tetap menolak melepaskannya dan ingin menyeretnya ke istana kerajaan.
Di tengah kepasrahan dan rasa takutnya, keajaiban pun terjadi ketika air mata Rengganis yang mengalir deras. Tetesan air matanya berubah menjadi banjir besar yang meluap dengan cepat.
Luapan air tersebut menenggelamkan seluruh area Taman Banjarsari dan membuat kepanikan luar biasa di antara para prajurit serta Iman Suwangsa yang terpaksa menyelamatkan diri ke atap gubuk.
Banjir ajaib itu mencabut seluruh tanaman bunga yang ada di taman dan menghanyutkannya ke berbagai penjuru arah hingga akhirnya tumbuh subur di tempat-tempat baru yang dapat diakses oleh masyarakat di kaki gunung.
Memanfaatkan situasi yang kacau tersebut, Rengganis berhasil membebaskan diri dan terbang kembali ke tempat pertapaan ayahnya.
Melalui peristiwa itu, Taman Banjarsari yang semula menjadi simbol keangkuhan akhirnya runtuh dan keindahan bunga-bunga langka tersebut akhirnya menjadi anugerah alam yang bebas dinikmati oleh siapa saja tanpa sekat status sosial.
