Navaswara.com – Riuh langkah para pelari, antrean panjang pengambilan race pack, hingga ramainya peserta dari berbagai negara mewarnai suasana Race Expo BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026. Apa yang setahun lalu disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai candaan, kini benar-benar terwujud. Lebih dari 45 ribu pelari dipastikan ambil bagian dalam ajang marathon internasional terbesar di ibu kota tersebut.
BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 diikuti 45.500 peserta, termasuk 1.012 pelari internasional dari 52 negara. Tingginya angka partisipasi tersebut semakin mengukuhkan JAKIM sebagai salah satu event lari terbesar di Indonesia sekaligus mempertegas posisi Jakarta sebagai destinasi sport tourism yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia.
BTN JAKIM 2026 berlangsung selama dua hari, yakni 13–14 Juni 2026. Kategori 5K dan 10K digelar pada Sabtu, sementara kategori Half Marathon dan Marathon berlangsung pada Minggu.
Dari total peserta yang terdaftar, kategori Half Marathon menjadi yang paling diminati dengan jumlah 16.400 peserta. Disusul kategori 10K sebanyak 15.000 peserta, Marathon 8.600 peserta, dan 5K sebanyak 5.500 peserta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku terkejut sekaligus bangga melihat antusiasme masyarakat yang terus meningkat terhadap ajang tersebut.
“Tahun lalu saya memang bercanda menargetkan 45 ribu, dan alhamdulillah dalam waktu singkat terjual semua. Bahkan masih ada yang ingin mengantre mendapatkan slotnya. Jadi ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” ujar Pramono saat meninjau Race Expo BTN JAKIM 2026.
Tingginya partisipasi tidak hanya datang dari pelari domestik. Sebanyak 1.012 peserta internasional dari 52 negara turut meramaikan JAKIM tahun ini. Malaysia menjadi negara dengan jumlah peserta terbanyak mencapai 407 orang, disusul Singapura sebanyak 133 peserta dan Korea Selatan 54 peserta.
Menurut Pramono, meningkatnya jumlah pelari mancanegara menjadi indikator bahwa Jakarta semakin menarik sebagai tuan rumah ajang olahraga internasional.
“Dulu orang kita berlomba-lomba ikut marathon di Singapura. Sekarang warga Singapura dan Malaysia berlomba-lomba ikut marathon di Jakarta,” katanya.
Sementara dari peserta domestik, DKI Jakarta masih menjadi penyumbang terbesar dengan 14.750 peserta. Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 12.030 peserta, disusul Banten sebanyak 5.340 peserta.
Selain menjadi ajang olahraga, JAKIM juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Jakarta. Kehadiran puluhan ribu pelari dan pendampingnya turut menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, UMKM, hingga ekonomi kreatif di berbagai wilayah ibu kota.
Direktur Utama BTN menyebut pertumbuhan peserta yang konsisten dari tahun ke tahun menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan sekaligus memperluas jangkauan internasional.
“Respons masyarakat Jakarta dan seluruh Indonesia serta pelari internasional juga datang. Kami ingin tahun depan ada lebih dari dua ribu pelari internasional. Pak Gubernur titip KPI buat saya tahun depan harus 50 ribu peserta lari. Kami kerja keras,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan BTN JAKIM 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama yang menjadi bagian lintasan lomba, termasuk kawasan Sudirman, Thamrin, dan Rasuna Said.
Pramono menjelaskan, sejumlah ruas jalan akan disterilkan selama perlombaan berlangsung guna memberikan pengalaman berlari yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta.
“Kami sudah memutuskan Sabtu dan Minggu tidak ada car free day karena memang semua jalur akan disterilkan supaya para pelari bisa menikmati lari dengan nikmat,” ujarnya.
Dukungan terhadap BTN JAKIM 2026 juga datang dari berbagai sponsor dan mitra strategis nasional maupun internasional. Hal tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap Jakarta sebagai penyelenggara event olahraga berstandar global.
Dengan lonjakan peserta yang signifikan dan semakin besarnya partisipasi pelari mancanegara, BTN Jakarta International Marathon tidak lagi sekadar menjadi agenda olahraga tahunan. Ajang ini telah berkembang menjadi etalase kota yang mempertemukan olahraga, pariwisata, dan ekonomi dalam satu momentum, sekaligus memperkuat langkah Jakarta menuju kota global yang kompetitif dan berdaya saing dunia.
Dari lintasan marathon hingga denyut ekonomi kota, Jakarta terus berlari mengejar standar dunia. Kini pertanyaannya, sejauh mana ibu kota mampu menjadikan sport tourism sebagai mesin pertumbuhan baru yang berkelanjutan?
